Bagikan
Warung zaman dulu khas oriental menggunakan besi sebagai etalasenya. Foto : HanaEswe/ist.

GROBOGAN (SUARABARU.ID) – Di wilayah Kabupaten Grobogan, ternyata masih ditemukan rumah dengan arsitektur oriental asli. Hal itu terlihat dari penelusuran suarabaru.id di wilayah Kecamatan Wirosari.

Beberapa bangunan berarsitektur oriental ini ditemukan di Jalan Kusuma Bangsa, Wirosari. Hal itu dimulai dari rumah pertama di sisi sebelah timur jalan. Rumah pertama adalah saat ini ditinggali Deddy dan keluarganya.

Rumah milik Go Gwan Pit, masih asli dengan nuansa gabungan oriental – jawa. Ada pagar bambu saat hendak membuka pintu rumah tersebut. Foto : Hana Eswe/ist.

Dari tampak depan, bangunan dengan bahan kayu jati ini berumur sekitar 100 tahun masih berdiri megah. Terlihat masih asli dan belum ada polesan penambahan apa pun. Namun, untuk bagian depan rumah, tidak ada halaman seperti rumah pada umumnya.

“Saat ini di depan kami bangun warung sembako dan pakan ternak. Di dalam rumah, masih asli, kami gunakan sebagai tempat motor-motor yang dititipkan, karena kami buka jasa penitipan motor,” ujar ayah dua anak ini.

Yang unik dari rumah ini, pintu yang dipergunakan untuk akses masuk berukuran tebal berbahan kayu dengan pengunci balok kayu yang disisipkan pada dua besi. Bahkan, balok kayu yang menjadi sandaran tembok kayu bisa dipergunakan untuk meletakkan kendi.

Bangunan Pabrik Tahu

Setelah puas melihat berbagai macam hal unik di rumah pertama dilanjutkan dengan melihat bangunan lainnya. Bangunan rumah kedua terletak di depan GKJ Wirosari. Bangunan ini dulunya dikenal sebagai pabrik tahu pertama di Wirosari. Hal itu dibenarkan Koh Gwan, cucu pemilik pabrik tahu tersebut.

“Ini bangunannya semua masih asli. Rencana, kita keluarga mau merenovasi menjadi lebih baik dan bisa dipergunakan kembali. Saya generasi ketiga. Semula ini rumahnya engkong dan emak (kakek dan nenek-red). Mereka punya usaha pabrik tahu ini. Rumah ini dijadikan pabrik tahu dulunya. Saya masih ingat soalnya waktu itu saya dititipkan di sini untuk sekolah,” ujar Koh Gwan.

Pintu tebal menjadi ciri khas rumah-rumah oriental jaman dulu di Wirosari. Foto : Hana Eswe/ist.

Dari depan rumah, bangunan ini masih asli terlihat dari kaligrafi khas Tiongkok yang bermakna sebuah doa bagi umat Konghucu. Jika di era saat ini, tulisan tersebut lebih simpel dengan stiker warna merah dengan tulisan kaligrafi berwarna kuning. Berbeda dengan tulisan jaman dulu, yakni menggunakan kaligrafi yang ditulis dengan cat hitam berlatarbelakang warna merah.

Hanya saja, rumah ini sementara dijadikan gudang oleh pemiliknya. Akan tetapi, bagian dalam dari rumah ini masih asli. Terlihat dari kayu-kayu jati yang dicat berwarna putih hampir pudar.

“Dulu waktu saya kecil, masih segar dalam ingatan saya. Rumah ini masih asli. Catnya masih terang dan masih bagus,” ujar Koh Gwan.

Warung Jadul

Selain bangunan rumah, banyak ditemukan warung atau tempat usaha kaum Tionghoa yang tinggal di sini. Salah satunya, warung dengan konsep zaman dulu ditemukan di rumah milik Go Gwan Pit (83). Di usia senja, Go Gwan masih punya kekuatan untuk melakukan aktivitas sebagai pedagang kelontong di warung sederhana miliknya.

Go Gwan tinggal di warung yang masih satu atap dengan tempat tinggalnya. Sementara, di samping rumahnya terdapat rumah yang lagi-lagi berasitektur oriental-jawa. Hanya saja, rumah ini masih sedikit terawat. Pintunya masih asli dengan tulisan kaligrafi cina. Hanya saja, warna cat sudah pudar.

Piring antik ditemukan di salah satu rumah kuno ini. Hanya saja, bagian ujungnya sudah retak. Foto: Hana Eswe/ist.

Gembok kunci pada rumah ini  menggunakan dua lingkaran cincin besi berukuran besar. Sementara itu, untuk konsep bangunan Jawa juga masuk dalam hunian ini, yaitu pagar berbahan bambu di depan pintu rumah. Di sisi sebelah selatan, terdapat rumah berasitektur Jawa yang saat ini dipergunakan sebagai gudang.

“Rumah ini dulunya milik engkong dan mak saya dari papa saya. Setelah mereka meninggal, rumah ini kemudian dipakai untuk kami tinggal dan karena masih ada beberapa bagian yang rusak, kami menetap di rumah sebelah yang jadi satu sama warung kelontong,” ujar Go Gwan.

Seperti Lasem

Saat berjalan sepanjang pertigaan Wirosari menuju ke selatan sampai di depan rumah milik Go Gwan Pit ini, seperti menjelajahi area old heritage di Kawasan Lasem, Kabupaten Rembang. Di mana, di kawasan ini banyak ditemukan rumah-rumah kuno masyarakat Tionghoa yang berbaur menjadi satu dengan masyarakat pribumi.

Grendel kunci dengan model lingkaran cincin yang bisa untuk mengaitkan gembok. Foto : Hana Eswe/ist.

Hal itu diakui Koh Gwan. Menurut dia, memang bagus jika kawasan ini dibuat seperti di wilayah Lasem. Ia mencontohkan, Omah Abang, yang berada di Lasem itu awalnya berupa rumah kuno berarsitektur oriental yang kemudian dilakukan perawatan atau rehabilitasi dan akhirnya menjadi salah satu ikon wisata bersama dengan Omah Londo, Omah Hijau, dan Omah Kuning yang berada di satu kompleks pemukiman.

“Kalau menurut saya, memang bagus sekali jika dibuat seperti itu. Wirosari jadi hidup dan bisa jadi destinasi wisata baru di Kabupaten Grobogan. Itu menurut saya,” ujarnya.

Sementara itu, fotografer senior keturunan Tionghoa, Handoko, menjelaskan, tidak ada salahnya jika mengenang kembali bangunan-bangunan kuno bernuansa oriental ini. Kelak, ini bisa menjadi cerita bagi anak cucu generasi penerus.

Hana Eswe-trs

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here