Fahrudin dengan Lele Barbie yang ditemukan dengan rekayasa genetika. (Foto : Uut)

JEPARA (SUARABARU.ID) – Terdorong ingin menemukan verietas baru yang lebih menarik, Fahrudin (50), peternak lele warga Desa Mindahan, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara memulai riset panjang sejak akhir tahun 2016.

Menurut alumni Akademi Bahasa Asing Yogyakarta ini, lele yang dikonsumsi oleh masyarakat  bentuk dan warnanya kurang menarik.

Berkat ketekunannya, akhirnya pada akhir  tahun 2019 ia menemukan jenis baru yang kemudian diberi nama lele Barbie.

Nama boneka itu diberikan sebab warna lele temuannya sangat menarik. Berbeda dari lele yang dijual di pasar. Lele Barbie ini memiliki warna tubuh oranye mulai dari ujung kumis hingga ekor.

“Ini murni dan  bukan hasil  silangan . Sebab dari sungut sampai ekor itu warnanya sama tanpa ada belang dan blentong,”  ujar  Fahrudin saat ditemui SuaraBaru.Id di kolam yang ada di belakang rumahnya belum lama ini.

Pria yang  kerap dipanggil  O’ong ini juga menjelaskan, lele temuannya disamping warnanya menarik, tingkat pertumbuhannya juga cepat, baik jantan maupun betina.

Dengan demikian dapat menekan biaya produksi budidaya minimal 40 persen. Tentunya tanpa mengurangi kualitas dan kandungan dan nilai gizinya.

Inspirasi awal menurut Fahrudin didapat  dari penelitian terhadap  daun singkong yang mempunyai unsur zat hijau daun atau klorofil.

Dengan menambahkan kandungan protein dalam ukuran tertentu dan secara terus menerus akan merubah warna ikan lele menjadi oranye setelah kandungan itu masuk menjadi hormon lele.

“Namun, diperlukan takaran yang tepat untuk mencapai keberhasilan genetiik baru,” papar Fahrudin.

Ia juga mengaku selama ini tidak  tergantung pada pakan buatan  pabrik, tetapi lebih mengutamankan membuat pakan dari bahan organik, di antaranya adalah daun singkong muda yang masih berwarna hijau. Sedangkan teri nasi  kami berikan  untuk mendapatkan protein tinggi.” tutur dia.

Menurut Fahrudin, dengan hilangnya zat purin lele dengan pemberian makanan khusus dan didukung fermentasi alam dan tambahan protein, pada akhir tahun 2019 lele berwarna oranye tercipta. Keunggulan lain dari warna oranye adalah dapat memperbarui sel-sel yang sudah mati.

“Kami sudfah melakukan beberapa kali riset, pemijahan dengan indukan tanpa rekayasa dengan indukan hasil riset. Hasilnya sangat jauh berbeda, termasuk pertumbuhannya,” tambah Fahrudin.

Kini Fahrudin telah mampu memijahkan ribuan  lele Barbie F-1 atau keturunan pertama  dengan warna yang sangat menarik. Untuk indukan betina berat sekitar 5 kg panjang 95 cm. Sedang pejantan berat  7 kg dengan panjang 130 cm.

Hingga kini dia tidak berniat menjualnya, walaupun ada sejumlah perusahaan swasta yang ingin membeli hasil temuannya.

Ia malah  berharap, ada pihak yang bersedia memfasilitasi temuannya untuk mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual dari Kementrian Hukum dan HAM  untuk temuanya berupa  rekayasa genetika melalui pakan.

Harapannya, penemuan tersebut dapat menjadi inspirasi bagi siapa pun untuk melakukan inovasi,  terobosan dan penelitian  untuk  menghasilkan produk yang lebih baik.

Hadi Priyanto