Oleh Amir Machmud NS

CATATLAH meteor ini: Takumi Minamino!

Dialah Jepang kesekian yang beredar di Liga Eropa sejak Yasuhiko Okudera merintisnya bersama Hertha Berlin, FC Koeln, lalu Werder Bremen pada era 1970-an.

“Jepang kesekian” adalah pembahasaan tentang pengakuan betapa subur pesepak bola dari Negeri Matahari Terbit itu mampu menembus industri sepak bola dunia yang berkiblat ke Eropa. Kalau dalam titel tulisan ini saya menyebut “samurai” Jepang keenam, itu adalah urutan dari sisi kualifikasi peran dan performa yang mampu menciptakan “era tersendiri” dibandingkan dengan Jepang-Jepang lainnya yang pernah beredar di orbit elite.

Di antara serbuan para kesatria samurai itu, inilah kelima “ninja” sebelum Minamino yang paling moncer: Sunshuke Nakamura, Hidetoshi Nakata, Yuto Nagatomo, Shinji Kagawa, dan Shinji Okazaki. Berikutnya, kalau seorang Juergen Klopp merasa Liverpool harus punya Minamino setelah takjub atas penampilan impresif sang striker bersama RB Salzburg, bukankah itu ungkapan bahwa pemain tersebut memang “ada apa-apanya”?

Jepang, dengan J-League yang makin berkibar, kini menjadi lahan subur pemunculan para pemain hebat. Selain Minamino, Anda tentu mengenal Takefusa Kubo yang pada awal musim ini direkrut oleh Real Madrid. “Messi Jepang” alumni Akademi La Masia ini memang dalam status peminjaman ke Real Mallorca, akan tetapi diperkirakan pada saatnya dia akan “meledak” sebagai potensi hebat Negeri Matahari. Masih ada pula Hiroki Abe, yang bahkan disebut-sebut sebagai talenta terbaik Jepang, dan kini sudah diikat kontrak empat tahun oleh oleh Barcelona.

Proses perekrutan Minamino terpublikasi luar biasa. Pertama, tentu karena ketertarikan klub sekelas Liverpool. Kedua, fakta video aksi-aksinya bersama Salzburg memperkuat argumentasi mengapa dia dianggap layak berjajar di deret elite The Reds. Keterpincutan Liverpool untuk melengkapi lini depannya yang sudah kinclong — Mohamed Salah, Sadio Mane, Roberto Firmino, Divock Origi — dengan Minamino menunjukkan kebutuhan fungsional dalam taktik gegenpressing ala Juergen Klopp. Striker Jepang itu dianggap menjadi jawaban bagi kebutuhan rotasi dan kedalaman skuat di tengah tuntutan penampilan klub di banyak event.

*   *   *

SERBUAN para “ninja” ke liga-liga Eropa mulai terasa gaungnya sejak Kazuyoshi Miura dikontrak permanen oleh klub Serie A, Genoa pada 1994-1995. Kesempatan kiprah pemain Asia itu dinilai sebagai terobosan hebat kegtika Liga Italia tengah berkibar. Selanjutnya produk J-League pun laris manis. Hidetoshi Nakata termasuk yang langsung mampu beradaptasi ketika dikontrak Perugia, lalu merasakan gelar scudetto Liga Serie A bersama AS Roma sebagai salah satu pemain kunci. Dia kemudian bermain untuk Parma, Bologna, dan Fiorentina sebelum menjajal Liga Primer memperkuat Bolton Wanderers. Petualangan nomaden Nakata itu berlangsung dari 1998 hingga 2006.

Nama Sunshuke Nakamura tak kalah mentereng. Kemampuan tendangan bebas melengkung yang presisi membuat dia dijuluki “Roberto Baggio dari Timur” ketika memperkuat Reggina. Dalam rentang 2002 – 2010 dia merasakan jersey Glasgow Celtic dan Espanyol. Salah satu gol free kick Nakamura yang fenomenal dicetak ketika membobol gawang Manchester United dalam pertandingan Liga Champions di Celtic Park, 21 November 2006.

Jepang mengirim pesepak bola terbaik lainnya di Liga Primer, Bundesliga, dan Serie A seperti Junichi Inamoto, Takuma Asano, Riyochi Miyaichi, Kazuyusi Toda, Maya Yoshida, Yoshinori Muto, Daichi Kamada, Keisuke Honda, Shinji Kagawa, hingga Yuto Nagatomo.

Shinji Kagawa menjadi pengatur serangan Borussia Dortmund sebelum hijrah ke Manchester United, lalu balik lagi ke Signal Iduna Park. Sedangkan Nagatomo, sebelum hijrah ke Galatasaray sangat diandalkan Internazionale Milan sebagai bek sayap bertenaga kuda yang aktif mendukung serangan. Sementara Shinji Okazaki merasakan titel Liga Primer bersama Leicester City. Dia menjadi salah satu penyerang pilihan utama pelatih Claudio Ranieri.

Lalu apa sesungguhnya kunci sukses ekspor pemain Negeri Samurai itu, yang sekaligus mendukung kekuatan tim nasional dengan pemain-pemain berjam terbang kompetisi Eropa?

Peningkatan kapasitas J-League sejak 1992 melahirkan pemain-pemain dengan kualitas yang teruji. Klub-klub Jepang diperkuat oleh para pemain asing berkualitas, baik bintang yang masih segar maupun yang mendekati pensiun tetapi punya karisme habat. Konsistensi pembinaan di klub-klub liga di bawah industri kompetisi yang dikelola secara profesiomal dan rapi, memunculkan transfer of technology yang mengerek kualitas pemain lokal. Dan, pada saatnya, kualitas itu bersimbiosis mutualisme dengan kesempatan mereka memperkuat klub-klub Eropa.

Berlangsunglah kegairahan yang saling mempengaruhi. Sepak bola menjadi olahraga yang meniupkan histeria rakyat, terutama setelah Jepang menjadi tuan rumah Piala Dunia 2002 bersama Korea Selatan. Kelolosan tim Samurai Biru pada setiap putaran final Piala Dunia sejak 1998 dan rentetan trofi Piala Asia menandai kegempitaan yang berjalan paralel dengan pembinaan pemain di dua “medan”, J-League dan liga-liga Eropa. Dari negeri yang semula menggilai bisbol, sepak bola bergerak menjadi olahraga terpopuler.

Jepang tidak meraihnya secara instan. “Proyek 100 Tahun” JFA menuntun mereka ke mimpi besar menjadi negara Asia peraih Piala Dunia. Mentalitas hidup yang berdisiplin, klinis, terorganisasi, dan pantang menyerah bisa kita saksikan dari karakter para pemain Jepang yang berfisik prima. Komik manga dan anime “Kapten Tsubasa” — yang juga populer di Indonesia — merepresentasikan kegembiraan, daya juang, dan kecerdasan anak-anak muda Jepang dalam bersepak bola. Spirit “bola adalah teman” dalam manga tersebut adalah pesan tentang dorongan menjadikan sepak bola sebagai olahraga bangsa. Shinji Kagawa adalah salah satu produk terpenting “sekolah sepak bola” yang lahir dari “Proyek 100 Tahun”.

Kini, Takumi Minamino ibarat “New Tsubasa” yang menantang kerasnya rivalitas Liga Primer. Bahkan di internal Liverpool sendiri dia sudah harus berjuang untuk menaklukkannya. Untuk mendapat salah satu tempat dalam starting eleven The Reds, sang “Samurai Keenam” mesti menunggu salah satu di antara Mane, Salah, atau Firmino absen. Kecuali jika Juergen Klopp memang punya rencana skematik khusus yang membutuhkan kehadiran Minamino sebagai senjata rahasia, “ninja perusak pertahanan lawan”…

 Amir Machmud, wartawan senior, kolumnis olahraga, Ketua PWI Jateng