SALAH satu konsep terkabulnya keinginan dapat dilakukan dengan melakukan nazar yang baik. Ketika menghadapi masalah penting, mendadak, dan jika tidak mungkin melakukan doa atau riyadhah (ritual), yang memakan waktu, solusinya ucapkan nadzar di depan.

Nazar di depan itu ibarat “ngebon” atau utang  sama Gusti Allah. Dan  risikonya, jika nazar itu tidak dilakukan, padahal mampu melakukannya, diyakini ada azab atau hukumannya.

Saat mengucapkan nazar hati harus terjaga agar tidak disertai nafsu sesaat. Pilih jenis nazar yang tidak jenis perbuatan maksiat dan bukan pula hal yang mustahil dilakukan, dan juga bukan hal yang terlalu ringan dilakukan.

Untuk membantu diri sendiri, saudara atau teman yang mengalami kesulitan soal jodoh, dan sebagainya, bisa dilakukan dengan melakukan konsep pelepasan. Caranya lumayan berat.

Namun jika niatnya sungguh-sungguh, ingin menikah, misalnya namun kesulitan mendapatkan jodoh, caranya silakan melepas dan mengikhlaskan apa yang saat itu paling melekat di hati Anda. Jika Anda berani dan ikhlas melakukannya, insya Allah apa yang  dinginkan mudah dicapai.

Konsep ini tetap harus berdasarkan akal sehat. Misalnya, jika Anda menganggap benda yang paling melekat di hati itu rumah satu-satunya yang ditempati, ya jangan itu yang dilepas. Pilihlah benda lain yang jika dilepas tidak menimbulkan masalah baru bagi kehidupan Anda.

Dengan kata lain, andai yang dilepas itu harta yang berharga, namun dengan lepasnya itu tidak menimbulkan masalah baru dan Anda yakin benda yang dilepas itu masih bisa didapatkan kembali. Konsep “pelepasan” ini pernah dilakukan pejabat yang mengidap suatu penyakit  dan sudah berobat ke mana–mana dan belum ketemu obat yang jodoh.

Dan ketika dia datang kepada rohaniwan sepuh, ia disarankan untuk melakukan nazar membuatkan sumur bor bagi warga. Syarat lain, agar ikhtiarnya  cepat berhasil, nazar membuat sumur itu dilakukan di depan. Konsep tersebut disebut “ngebon” sama Gusti Allah sebagaimana sudah saya sebut di atas.

Pengalaman Pribadi

Awal tahun 90-an, saat saya masih kerja di Jakarta, saya pernah melakukan konsep “Ilmu Yakin” ini dengan cara yang benar-benar ekstrem. Berawal ketika ada teman lama menemuiku dan dia mengutarakan Ibunya sakit dan perlu berobat rutin. Dan untuk itu seluruh gajinya habis bahkan kurang untuk membiayai pengobatan rutin ibunya.

Untuk menolong secara materi tidak mungkin. Setelah merenung, saya ingat konsep yang dulu pernah diajarkan Guru, yang oleh beliau tidak  disebut dengan istilah “buang sial”, melainkan konsep: “Buang Senang Mendapatkan Senang”.

Dan untuk melakukan ini otak logika harus disingkirkan, buang jauh-jauh atau terik ke dengkul, dan bukan sekedar yakin, melainkan Haqqul Yakin. Pakai otak percaya, dan bukan logika. Saat merenung malam hari, antara tidur dan sadar, saya seolah bertemu teman di masa remaja dan ia memberiku pena emas. Saat sadar (bangun) hati saya mengatakan harus pulang dari perantauan, rezeki saya di desa. Maka, apa pun kata orang, saya punya keyakinan sendiri. Rezeki saya bukan di kota, melainkan di desa.

Untuk menolong secara materi tidak mungkin. Setelah merenung, saya ingat konsep yang dulu pernah diajarkan Guru, yang oleh beliau tidak disebut dengan istilah “buang sial”, melainkan konsep: “Buang Senang Mendapatkan Senang”. Dan untuk membantunya, saya suruh teman yang sedang kepepet itu menggentikan posisi saya di sebuah perusahaan advertising tempat saya bekerja.

Dalam suasana lebaran,  oleh teman jurnalis senior, saya ditawari menulis di  hariannya tentang tenaga dalam dan metafisika karena saat itu tenaga dalam sedang booming dan media perlu informasi penyeimbang. Tulisan saya disambut baik oleh publik. Berawal dari kolom (rubrik) berubah menjadi buku. Bahkan saya “diperebutkan” untuk menulis di tiga penerbit, dan ketiganya meminta saya menulis cepat, tak perlu diedit, langsung cetak mumpung sedang laku, kata mereka.

Yang saya alami saat ini, dapat berkarya, jika diruntut berawal dari keberanian untuk melakukan konsep “Buang senang, dapat senang”.

Masruri adalah pengamat dan konsultan metafisika, tinggal di Sirahan, Cluwak, Pati.