PADA putaran awal Piala Dunia 1994 (Sepak Bola) di Amerika Serikat, dalam kondisi menjelang tidur, saya seolah melihat partai final antara  kaos kuning cerah melawan dengan kaos biru tua. Ketika saya cerita sama kolumnis di sebuah harian, saya ditanya kedua kesebelasan itu berasal dari negara mana? Saya menjawab,” Saya hanya melihat warna kaosnya”.  Dan ndilalah-nya Brazil dengan kaos kuning bertemu Itali yang kaos biru tua melalui adu pinalti.

Seorang profesor kimia organik di Darmstandt 100 tahun yang lalu mengalami suatu imajinasi, dia melihat bentuk komplet dari tata susunan atom yang terdiri dari molekul hexamelabenzene. Apa yang dilihat itu lalu ditulis dalam buku hariannya.

Dan sampai ketika profesor itu meninggal, masyarakat sekitar masih menertawakan teori yang didapat dari imajinasi tersebut. Dalam penyelidikan berikutnya, seorang sarjana mengambil foto tentang molekul  hezamelabenzene. Dan tepat seperti yang tergambar dalam buku harian Sang Profesor.

Gejala aneh lain dikisahkan dokter yang praktik di bidang neuropsychiatri seperti dimuat majalah Tomorrow. Dikisahkan, pada April 1949 ada pasien setelah sadar dari pengaruh bius, ia melihat Nyonya Manuel Quezon, janda presiden pertama Filipina dibunuh di tepian jalan dekat Manila. Dan mimpi itu pun terjadi. Inilah jenis reportase yang membuat siapa pun berpikir. Dan perlu  dicatat, pengalaman macam itu tidak hanya dialami spiritualis sebagai hasil dari olah rohaninya.

Indra Keenam

Di kalangan orang yang menggeluti olah spiritual, proses tersebut diyakini karena aktifnya indra keenam. Lintasan ilham atau isarah itu bisa disebut petujuk  Tuhan kepada hamba yang dikehendaki. Apakah indra batin seperti itu dapat dilatih? Jawabnya tentu saja, bisa!

Konsep spiritual, untuk memperoleh kepekaan batin itu dengan membersihkan hati dan pikiran dari kotoran atau penyakit rohani. Ibarat kaca kotor oleh debu, maka ia terhalang tembus pandang, dan jika terkena sinar pun tidak mampu memantulkan nur atau cahaya.

Metode praktis mencapai untuk menajamkan kepekaan ini yang paling sederhana adalah dengan membiasakan  “zikir napas” yaitu zikir hati disertai teknik nafas sesuai program yang diinginkan.

Yaitu, untuk urusan yang berkaitan dengan spiritual -ketentraman, indera batin-  dilakukan dengan zikir kalimat “Huu” saat menarik nafas, dan zikir kalimat “Allah”.  Sedangkan yang kaitan dengan power menggunakan cara nafas sebaliknya, yaitu “Allah” saat tarik nafas dan “Huu” saat buang nafas.

Orang yang peka  atau waskita itu terkadang (tidak selalu) mengetahui isarah atau tanda-tanda “gaib” atau apa belum terjadi, melalui getaran hati, impian, suara atau hasil membaca dan merasakan sinyal pada alam semesta ini.

Dan tanda dari sinyal yang murni itu ditandai, si penerima mengalami kondisi  yakin, terekan dalam hati, tak akan lupa, tanpa keraguan, dan proses itu seringnya malah muncul bukan karena hal yang sengaja ditunggu-tunggu, mengalir dan refleks!

Apa yang kita anggap sebagai ilham dari Tuhan, boleh jadi itu hanya bisikan setan yang hendak. menjerumuskan manusia. Karena tugas setan ya menjerumuskan manusia, melalui bisikan bisikan halus, sehingga orang-orang yang berupaya untuk memiliki kepekaan seringkali dijadikan bulan-bulanan.

Wilayah Hati

Di kalangan ahli hikmah, tentang mata hati ini, disebutkan bahwa hati manusia itu memiliki dua wilayah. Satu bagian dikuasai Malaikat dan bagian lain dikuasai setan. Seseorang yang menginginkan peka menerima getaran (wisik) dari malaikat itu harus kuat zikirnya. Dengan kata lain, dengan zikir yang kita lakukan itu melebarkan wilayah malaikat dan menyempitkan wilayah setan.

Ketika proses itu terjadi, akan ditandai dengan adanya perubahan pada kondisi batin batin memiliki sifat As-Sakhowah (dermawan) Qana’ah (ikhlas menerima) Al-Khilmu (santun) At-Tawadhu’(rendah hati) At-Taubat (bertobat), As-Shabru (sabar), dsb.

Masruri adalah pengamat dan konsultan metafisika, tinggal di Sirahan, Cluwak, Pati.