Contoh produk peyek sosis Wonosobo. (Foto : SuaraBaru.id/Muharno Zarka)

WONOSOBO(SUARABARU.ID)-Bakso dan sosis biasanya disajikan dan dijual berupa menu bakso kuah atau untuk campuran sayur sup. Kalau tidak, ya bakso dan sosis diolah menjadi bakso- sosis bakar, goreng atau sate.

Tapi di tangan Dwi Astuti Nurnaningsih (49), bakso dan sosis bisa dibikin peyek, namanya peyek bakso dan peyek sosis. Peyek jenis baru ini pun punya rasa khas bakso dan sosis sebagai bahan utamanya.

Cara mengolah, kompisisi bahan dan bentuk peyek seperti peyek kebanyakan yang terbuat dari bahan lain. Hanya rasanya yang berbeda. Jika peyek kacang tanah ada rasa kacang tanah, peyek bakso dan sosis, berasa bakso dan sosis.

Sebagaimana peyek jenis lain, peyek bakso dan sosis ini juga dibungkus dalam plastik transparan dan dijajakan di toko-toko makanan. Bentuk irisan bakso dan sosis tampak sekali dalam peyek ini.

Warna putih irisan bakso dan warna merah potongan sosis menjadi ciri khas dari jajanan renyah dan gurih ini. Bagi yang belum pernah mencicipi atau membeli dua jenis jajangan ringan ini pasti akan penasaran.

Pasalnya, bakso dan sosis bisa diolah menjadi makanan kering yang super nikmat ketika disantap. Di antara jenis peyek lain yang sudah dulu ada, peyek bakso dan peyek sosis merupakan terobosan baru.

Dwi Astuti yang ditemui  SUARABARU.ID di rumah produksinya, Rabu (25/12), di Kampung Baru RT 2 RW 5 Kerkop Kelurahan Wonosobo Barat, Wonosobo ini, mengatakan banyak yang suka dan membeli dari dua aneka peyek unik yang dibuatnya.

Sebab, setiap produksi peyek bakso dan sosis yang dilempar ke pasaran, dalam waktu tak lama, makanan ringan itu selalu ludes terjual. “Bahkan saya kadang sampai kewalahan melayani pesanan”, ujar Dwi Astuti.

Dwi Astuti Nurnaningsih (49), produsen peyek sosis Wonosobo. (Foto : SuaraBaru.id/Muharno Zarka)

Cara Bikin

Pembuatan peyek bakso dan sosis dia lakukan, lantaran merupakan jenis makanan langka yang belum banyak diolah oleh produsen makanan sejenis lainnya. Karena langka dan unik dia optimis ke depan , produksinya akan laris manis.

Sebelum membikin peyek bakso dan sosis, dirinya sudah terlebih dahulu memproduksi peyek kacang tanah, kacang hijau, delai hitam, teri adem, teri asin dan petos. “Peyek bakso dan sosis merupakan pengembangan usaha yang sudah ada,” katanya .

Ide pembuatan peyek baru ini, diakui oleh Dwi Astuti, buka merupakan gagasannya. Tapi merupakan usulan dari anaknya. Karena putranya, selama ini, terbiasa membeli bakso kuah dan sosis bakar/goreng, dia ingin bakso dan sosis dibikin peyek.

Berdasarkan pengalaman membuat peyek kacang tanah, kisah Dwi Astuti, dia pun menjajal menggoreng peyek bakso dan sosis. Hasilnya, ternyata tak kalah renyah dan enak dari peyek lain.

Karena itu, kini, dia pun menjadikan kedua penganan itu menjadi andalan produknya.  “Hanya saja untuk menggoreng peyek bakso dan sosis butuh waktu lama. Sebab bakso dan sosis merupakan makanan basah”, tuturnya.

Sementara untuk peyek lain, seperti peyek kacang tanah, kacang, hijau, teri dan kedelai, karena bahannya sudah kering, cara menggorengnya lebih cepat. Agar menghasilkan peyek yang renyah dibutuh kesabaran dalam mengolah.

Bahan atau bumbu peyek bakso dan sosis, sama dengan peyek lain. Yakni tepung beras, telur, bambu dapur, garam dan minyak goreng. “Guna menghasilkan peyek bakso dan sosis yang enak dan renyah, saya sedikit menggunakan penyedap rasa,” tandas dia.

Sebaliknya, imbuh istri dari Dody Prasetyo Hananto (51) ini, untuk mempertahankan rasa alami peyek, dirinya akan memperbanyak komposisi bumbu dapur pada adonan bahan pembuat peyek.

Proses pengolahan peyek sosis di Kampung Baru RT 2 RW 5 Kerkop Kelurahan Wonosobo Barat Wonosobo. (Foto : SuaraBaru.id/Muharno Zarka)

Tahun Baru

Setelah selesai penggorengan, ibu yang semula mengaku tidak suka memasak ini, bersama suaminya mengemas peyek untuk siap dipasarkan di toko oleh-oleh makanan ringan atau diambil oleh pedagang makanan lainnya.

Satu bungkus, dikatakan Dwi Astuti, berisi 200 gram. Satu bungkus peyek bakso dan sosis dijual di toko kepada pembeli Rp 15.000. Dalam satu bulan, Dody Prasetyo, menyebut bisa menghasilkan sekitar 1.500 bungkus peyek.

Dia menamakan peyek buatannya dengan label “Anekah Peyek” yang diproduksi oleh UMKM Sedekah. Kata “Sedekah Peyek” diambil agar setiap peyek yang habis terjual membawa berkah bagi keluarganya maupun penjual lainnya.

Selain dipasarkan di Wonosobo, peyek buatan pasangan suami-istri ini, juga dijual di Yogyakarta, Temanggung, Magelang, Semarang dan Solo. “Khusus yang di Yogyakarta dijajakan di Koperasi Universitas Gajah Mada (UGM)”, tandas Dody.

Selain dijual di toko-toko makanan, khusus peyek kacang hijau dan kacang tanah, sudah rutin di pesan Rumah Sakit Islam dan RSUD Soetjonegoro Wonosobo, untuk disajikan pada pasien yang rawat inap.

Meski saat ini sudah sukses dalam mengelola usaha makanan kecil, Dwi Astuti mengaku semula buta dalam hal menolah aneka gorengan peyek. Namun berkat kemauan belajar yang tinggi, akhirnya dia bisa memproduksi peyek seperti saat ini.

“Saya punya andalan ilmu dari google. Sejak awal yang jadi andalan dalam meramu bumbu dan menggoreng peyek, saya selalu membuka google untuk saya pelajari dan praktikkan.  Peyek sosis ini sangat enak dinikmati saat pergantian malam Tahun Baru 2020,” katanya.

Muharno Zarka/mm