Bagikan
Beberapa ekor kura-kura (bulus) yang dipelihara di kolam belakang makam Mbah Dudo, menjadi salah satu daya tarik tradisi Syawalan Bulusan.foto:Suarabaru.id

KUDUS – Meski seramai tradisi di daerah lain, tradisi Syawalan Bulusan yang merupakan bagian dari perayaan Syawalan di Dukuh Sumber, Desa Hadipolo, Kecamatan Mejobo, cukup diminati pengunjung. Menjelang puncak perayaan Syawalan yang jatuh pada Rabu  (12/6) hari ini, pengunjung sudah cukup banyak yang mendatangi lokasi tradisi.

Apalagi dalam tradisi ini panitia bakal menggelar rangkaian acara hiburan diantaranya pentas kirab budaya, fashion show, hingga pagelaran wayang kulitserta berbagai acara lain yang digelar pada puncak acara. Tak hanya itu, kehadiran ratusan pedagang khas syawalan juga menjadi daya tarik tradisi ini.

”Biasanya pengunjung bisa mencapai ribuan sejak mulai digelarnya acara hingga puncak acara nanti,’’ ujar Kepala Desa Hadipolo, Wawan Setiawan.

Tradisi Bulusan juga tak lepas dari keberadaan beberapa ekor kura-kura yang memang hidup dan dipelihara di sendang sekitar makam Mbah Dudo, lokasi tempat acara. Dan legenda Mbah Dudo ini juga yang konon menjadi cikal bakal bermulanya tradisi ini.

Menurut sesepuh desa, tradisi ini konon diawali dengan kejadian pada masa Sunan Muria. Dimana saat itu ada seorang bernama Kiai Dudo yang merupakan sahabat sekaligus ahli nujum dari Sunan Muria. Kiai Dudo memiliki dua murid kesayangan yakni Umara dan Umari yang selalu setia mengabdi dan melayani sang kiai.

Hingga suatu ketika di malam 17 Ramadan, datanglah Sunan Muria  berkunjung ke temnpat kiai Dudo. Saat asyik berbincang, ternyata kedua murid kiai Dudo tersebut sedang memanen padi pada malam hari yang menimbulkan suara berisik. Sunan Muria secara spontan langsung bertanya kepada kiai Dudo. ‘’Suara apa ini malam-malam kok ‘krubyak-krubyuk’ seperti bulus.

Ajaib, ternyata saat ditengok sudah ada dua bulus yang ada di sawah. Ternyata dua ekor bulus tersebut merupakan murid kiai Dudo yang berubah akibat sabda dari Sunan Muria.

Melihat kejadian tersebut, kiai Duda tentu bersedih hati. Sunan Muria yang melihat kejadian tersebut berusaha menghibur dan mengatakan kalau hal tersebut sudah ditakdirkan Tuhan YME. ‘’Itulah cikal bakal adanya bulus yang ada di sini,’’ kata Wawan.

Berawal dari kejadian tersebut, menurunya, tradisi Bulusan akhirnya digelar masyarakat sekitar setiap 8 Syawal. Tradisi tersebut dilakukan untuk menghormati dua murid kiai Duda yang telah berubah menjadi Bulus.

Selain beragam atraksi, adanya beberapa ekor bulus di sekitar sendang Dudo juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Mereka ingin melihat dari dekat bulus-bulus yang kini tinggal beberapa ekor yang konon merupakan anak turun dari murid kiai Dudo.

Selain itu, ada pula warga yang memberikan sesajen berupa nasi dan telur disertai uang kepada juru kunci, yang sebagian disebar ke sendang yang berisi bulus-bulus. ”Ini seperti bentuk rasa syukur untuk memberi makan pada murid-murid mbah dudo yang menjadi bulus,” pungkasnya.

Suarabaru.id/Tm.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here