Bagikan
Meskipun kondisi jalan macet, namun bila Lebaran tidak mudik, rasanya juga kecewa.(Foto: dok)

Ketika Mudik Tak Tergantikan

 Oleh: Ira Alia Maerani

ERA globalisasi membawa berbagai macam perubahan gaya hidup. Tuntutan serba cepat, instan dan berkualitas menjadi harapan. Tak terkecuali soal gaya silaturohim era globalisasi. Teknologi dalam genggaman.
Ketersediaan fasilitas yang massif di bidang telekomunikasi membuat silaturohim mudah dilakukan. Baik dengan berbagai fasilitas media sosial, video call, skype maupun berbagai kemudahan lainnya.
Berbagai kemudahan di bidang telekomunikasi ini nampaknya tidak membuat bergeming akan makna silaturohim khas di saat Idul Fitri yang kerap dikenal dengan istilah mudik.
Jauhnya perjalanan, macet, tingginya biaya transportasi, hingga menyiapkan berbagai macam oleh-oleh untuk keluarga terkasih di kampung halaman pun disiapkan. Bahkan nyawa pun dipertaruhkan demi bertemu orang tua dan sanak saudara.
Budaya silaturohim khas Indonesia ini patut dilestarikan. Meski telepon dan video call menjadi jalan pintas. Ucapan Selamat Idul Fitri dan permohonan maaf melalui What’s Up, Line, Facebook, Instagram dan berbagai media sosial lainnya menjadi alternatif.
Kumpul dan foto bersama merupakan momen yang sering tak bisa ditinggalkan, dan merupakan kenangan tersendiri.(Foto: dok)
Namun sentuhan tangan, cium tangan, dan pelukan seorang ibu dan ayah kepada anak-anaknya, cucu-cucunya, besannya, kakak dan adiknya tidak bisa tergantikan oleh  berbagai gaya silaturohim zaman mileneal ini.
Kekuatan Doa
Silaturohim seperti yang banyak diketahui, memiliki banyak faedah. Seperti membuka pintu rezeki, memperpanjang umur, mendekatkan kerabat, dan berbagai keuntungan lainnya.
Kebekuan komunikasi menjadi sirna. Sentuhan fisik berupa jabat tangan, saling berkunjung, saling menyapa, saling bertatapan mata, saling tersenyum dan tertawa serta bercengkerama ngalor ngidul sungguh memiliki arti. Terkadang ada ilmu, informasi dan hal-hal positif yang bisa diambil dari obrolan mudik ini.
Kondisi seadanya di kampung halaman tak digubris. Tidur beralas tikar tipis. Tanpa kasur. Berbantal tas ransel. Bergantian antre di kamar mandi ataupun ciblon di sungai.
Makan bersama merupakan rangkaian acara tersendiri yang mengasyikan ketika semua keluarga berkumpul.(Foto: dok)
Makan makanan berlauk khas desa menjadi klangenan tersendiri. Saling bersenda gurau dan reuni masa lalu ketika kecil menjadi sebuah hiburan.  Meski tak jarang harus sedih dan menangis ketika mengingat sanak saudara yang telah tiada.
Masak bersama dalam jumlah besar. Dapur yang sederhana. Terkadang dalam kepulan asap perapian kayu. Namun dalam senda gurau terasa ringan dan menyenangkan.
Makan bersama. Meski tidak selalui ditemui opor ayam maupun serundeng daging di desa. Lauk tempe kotok, oseng waluh (jipang/labu siam) pun apabila dimakan bersama-sama  nikmat luar biasa.
Saling cerita perjalanan hidup menjadi motivasi tersendiri. Saling support. Saling mencerahkan. Tak jarang untaian doa mengalir deras. Terlebih doa orang tua. Kekuatan doa inilah yang dinanti para perantau. Kesuksesan di rantau sehingga diberi kemudahan untuk bersua dalam mudik tahun berikutnya.
Memelihara hubungan silaturohim ini teryata bukan tanpa rujukan. Al Qur’an dalam Surat An Nisa Ayat 1 memerintahkan umat manusia untuk beriman kepada Allah yang telah menciptakan dari diri yang satu (Nabi Adam as).
Allah telah menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya. Dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu meminta dan peliharalah hubungan silaturohim (kekeluargaan). Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.
Perintah menjaga hubungan silaturohim pun diatur dalam Alguran surat Muhammad Ayat 22. “Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” Demikian bunyi ayat pendek yang mengandung perintah tegas untuk menjalin dan merajut hubungan silaturohim.
Kemudahan teknologi dalam  telepon genggam dengan berbagai aplikasi pendukung tak mampu menandingi keistimewaan mudik yang mengandung keberkahan doa di dalamnya. Sehingga ketika jelang Hari Raya Idul Fitri, budaya mudik menjadi tidak tergantikan. Merajut silaturohim, mengalap keberkahan.
(Dr. Ira Alia Maerani, S.H., M.H., dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA), Semarang)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here