Kepala Pabrik PT Tirta Invenstama Wonosobo Satoto Mulyo foto bersama dengan sejumlah wartawan usai acara buka bersama dan ngobrol bareng di Rumah Makan Taman Puring setempat. Foto : SuaraBaru.id/Muharno Zarka

WONOSOBO- External Relation Region 3 PT Tirta Investama Suparman Suro mengatakan setiap bulan di Indonesia terjadi penumpukan sampah plastik sebesar 12 ton. Sampah tersebut berasal dari berbagai kemasan plastik produk makanan, minuman dan produk lainnya.

Dari sampah plastik sebanyak itu, PT Tirta Investama yang memproduksi air dalam kemasan plastik hanya menyumbangkan sekitar 30 persen saja. Sisanya merupakan kemasan makanan, minuman, dan produk sejenis dari produsen lainnya.

“Sebagai bentuk kepedulian terhadap penumpukan sampah plastik yang bisa mencemari lingkungan, PT Tirta Investama siap untuk mendaur ulang sampah plastik bekas tersebut. Sehingga sampah plastik yang semula tidak berguna bisa dimanfaatkan kembali,” katanya.

Suparman Suro yang juga mantan Kepala Pabrik PT Tirta Investama Wonosobo mengatakan hal itu di sela-sela melakukan buka bersama dan ngobrol bareng dengan sejumlah insan pers di Rumah Makan Taman Puring Wonosobo, Senin (20/5) malam.

Pihaknya mengaku meski jauh-jauh datang dari Jawa Timur ke Wonosobo, karena merasa selama bertugas di Wonosobo sangat dekat dengan kalangan wartawan yang biasa melakukan peliputan di wilayah setempat.

“Saya ikut datang ke sini, terus terang, karena kangen sama teman-teman media yang sudah lama tidak bertemu. Saat saya masih bertugas di Wonosobo bisa setiap saat bertemu bareng. Meski sudah tidak di Wonosobo, saya minta komunikasi tetap jalan,” pintanya.

Pak Parman-demikian dia kerap disapa-meminta kemitraan yang sudah lama terjalin antara PT Tirta Investama dengan media harus tetap dipertahankan. Sebab, sebaik apapun program yang dicanangkan perusahaan tanpa publikasi media, masyarakat tidak akan tahu.

Corporate Communication Region 3 PT Tirta Investama Rony Rusdiansyah menambahkan untuk mengetahui apa saja yang telah dilakukan pihak perusahaan, sebenarnya tinggal membuka di laman internet. Semua data kegiatan perusahaan tersaji di sana.

Program CSR

Sementara itu, Kepala Pabrik PT Tirta Investama Wonosobo Satoto Mulyo mengatakan selama ini pihaknya menjalin kerja sama dengan Lembaga Pengelolaan Tehnologi Pedesaan (LPTP) dalam melaksanakan program corporate social responbility (CSR) di berbagai desa.

“Program CSR lebih diarahkan ke program Aqua Lestari, yakni sebuah program di bidang pemeliharaan lingkungan. Sebagai perusahaan yang bergerak di pengolahan air, tentu membutuhkan lingkungan yang bersih dan lestari,” katanya.

Di Wonosobo, imbuh Satoto, program CSR PT Tirta Investama direalisasikan melalui sektor indutri rumah tangga dengan melakukan pendampingan UMKM. Program pendampingan dilakukan dalam memproduksi, pengemasan dan pemasaran makanan khas Wonosobo.

“Sejak 2012 CSR Aqua telah menyasar 4 kelompok usaha mikro di 3 Desa/Kelurahan yang ada di Wonosobo. Yakni Kelompok Al Barokah Sejahtera Kelurahan Kejiwan, Kelompok Kucai Jaya Kelurahan Kalibeber dan Kelompok Berkah Mandiri Desa Blederan Mojotengah,” paparnya.

Sedangkan di sektor konservasi, menurut Satoto, lebih diarahkan melakukan konservasi tanah dan air. Kegiatan ini bertujuan untuk mengembalikan fungsi tanah sebagai resapan air. Apalagi Wonosobo masuk dalam kawasan Daerah Aliran Suangai (DAS) Serayu.

“Kegiatan konservasi difokuskan di daerah recharge area PT Tirta Investama Wonosobo, yakni dengan melakukan penanaman tanaman kopi di Desa Mlandi Garung sebagai tanaman utama konservasi. Desa tersebut masuk dalam kawasan lereng Gunung Bismo”, katanya.

Ditambahkan Satoto, di sektor pertanian kegiatan yang dilakukan meliputi pengembangan pertanian sistem of rice intensification ((SRI). Mulai tahun 2014 sudah dikembangkan model pengelolaan pekarangan di Desa Blederan untuk ditanami sayur-sayuran.

Hasil yang didapat cukup bagus, karena berkat program tersebut Desa Blederan dideklarasikan sebagai Kampung Wisata Sayur. Kegiatan tersebut juga mendapat apresiasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dengan predikat Desa Proklim.

“Ada juga program di sektor sanitasi yang ditekankan pada pengelolaan sampah. Sedang program non CSR yakni penanganan sampah di lingkungan pabrik, menelurkan budaya bijak berplastik dan program water acces agar air mudah diakses”, sebutnya.

SuaraBaru.id/Muharno Zarka