Bagikan
Embung Rowosetro, di Desa Tireman, kini belum ada airnya.(Foto: Djamal Ag)

REMBANG – Sejumlah embung di Rembang, hingga kini masih belum terisi air meskipun sudah memasuki musim hujan. Penyebabnya, curah hujan selama Desember 2018 hingga Maret 2019 sangat rendah. Padahal, biasanya sampai bulan ketiga embung mulai terisi penuh air.
Embung Rowosetro, di Desa Tireman, Kecamatan Rembang misalnya, kondisinya kini masih kosong. Air hanya terlihat di dasar embung. Itu pun debit airnya masih sedikit.
Sementara embung ukuran sedang lainnya, baik yang ada di Sulang maupun Gunem juga mengalami nasib sama, airnya kosong.
Dari pantauan suarabaru.id, sebagian embung juga mengalami pendangkalan parah, sehingga tidak bisa menampung air dengan jumlah banyak.
“Seharusnya pemkab Rembang menganggarkan untuk proyek normalisasi embung yang mengalami pendangkalan,” ucap suwardi, warga dekat embung.
Warga mengatakan, jika curah hujan masih saja rendah, dipastikan pada musim kemarau nanti akan terjadi kelangkaan air bersih. Pasalnya, karena cadangan air permukaan terbatas.
Menurut Rakiman, 57, petani di Desa Kaliombo, Sulang, musim hujan tahun ini tidak seperti biasanya. Curah hujan tidak terlalu tinggi. Padahal, biasanya memasuki bulan ketiga kondisi embung sudah penuh terisi air.
Lebih parah lagi kondisi embung ukuran kecil, juga belum ada airnya atau bisa dibilang mengering. Air hujan yang tertampung di embung tersebut hilang terserap tanah.
Dia menjelaskan, para petani sudah menanam padi di lahan sawah. Namun, karena kondisi curah hujan yang masih rendah tanaman padi tidak bisa tumbuh dengan baik.
Mungkin dari rendahnya curah hujan, banyak petani yang memilih menanam jagung dan kacang hijau.
Kondisi serupa juga terjadi di embung ukuran besar, seperti Embung Lodan (Sarang), Embung Panohan (Gunem), Embung Banyukuwung (Sulang), dan Embung Grawan (Sumber). Semua embung itu airnya masih pada batas titik rendah. Padahal, air embung tersebut dicadangkan untuk kebutuhan minum warga di musim kemarau.
Asisten II Sekda Rembang, Abdulah Zawawi membenarkan rendahnya curah hujan di daetahnya. Hal itu bisa mengancam kelangsungan hidup tanaman padi milik petani.
Lebih lagi jika musim kemarau, dipastikan akan terjadi kelangkaan air bersih, karena minimnya cadangan air permukaan.(suarabaru.id/Djamal AG)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here