Bagikan
Wisatawan tengah menikmati keindahan taman bunga di Desa Lancar Kecamatan Wadaslintang. Foto : Muharno Zarka

WONOSOBO – Desa Lancar Kecamatan Wadaslintang Kabupaten Wonosobo kini tengah getol mengembangkan kegiatan ekonomi desa dengan merinitis berdirinya taman bunga untuk tempat berwisata.

Pengelola wisata taman bunga Desa Lancar, Muh Anas (36), Senin (18/2), mengatakan ide pendirian gree house ini berawal dari impian menjadikan desa yang berada di pinggir Waduk Wadaslintang ini menjadikan desa wisata.

Taman bunga ini, lanjut Anas, akan dikembangkan menjadi agro wisata dengan konsep agropolitan tanaman bunga. Selain itu, juga didukung pengembangan kebun sayur hidroponik dan organik serta budidaya ikan waduk dan peternakan kambing.

“Ini merupakan tempat wisata berbasis taman bunga yang pertama di Wonosobo. Mudah-mudahan ke depan kian berkembang dan destinasi wisatan dari waktu-waktu terus mengalami peningkatan. Alhamdulillah setiap akhir pekan sudah banyak wisatan yang datang”, katanya.

Dipilihnya budaya bunga, karena iklim dan kesuburan tanah di Desa Lancar Kecamatan Wadaslintang sangat cocok untuk pengembangan budi daya tanaman ini. Wisatawan yang datang ke Waduk Wadaslintang pun diharapkan bisa sekalian mampir ke taman bunga Desa Lancar.

Bunga Krisan

Salah satu petani bunga Desa Lancar, Irfangi (35) menegaskan saat ini di Desa Wisata Lancar, telah berdiri empat green house dengan ukuran masing-masing 7×30 meter. Bunga yang budiayakkan adalah bunga krisan dari berbagai jenis.

Empat taman bunga yang ada meliputi Green House Formula di Dusun Rapahamba, Green House Slamet di Dusun Silutung, Green House Fajar di Dusun Kepundung dan Green House Mandiri di Dusun Kalijangkel.

“Satu green house rata-rata menanam antara 10 ribu hinggan 12 ribu bunga krisan. Jenis bunga krisan yang ditanam antara lain remix, lalypop, bokardi, DR dan PN dengan kualitas warna bunga yang unggul “, ujarnya.

Saat ini ditambangkan Anas, satu tangkai bunga dihargai Rp 25 ribu sampai Rp 50 ribu dengan 10 batang bunga. Harga bunga tergantun kualitas warna dan keindahan bunga. Semakin baik warna dan kualitas bunga krisan harganya kian mahal.

Untuk bisa berwisata di taman bunga, pengunjung dikenai tarif Rp 5 perorang. Saat masa bunga mekar, tidak sedikit pasangan calon pengantin melakukan foto pre-wedding di tempat ini dan foto selfi bagi banyak pemuda-pemudi.

Selama ini, selain didatangi wisatawan dari sekitar Wonosobo, banyak juga penunjung dari Kebumen, Puworejo, Magelang, Yogyakarta, Banyumas, Magelang dan Temanggung. Selain untuk tempat wisata, bunga krisan bisa dijual untuk keperluan dekorasi panggung dalam berbagai acara.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Wonosobo One Andang Wardoyo sangat mendukung kreatifitas dan terobosan yang dilakukan oleh pemuda Desa Lancar Kecamatan Wadaslintang dalam mengembangkan desa wisata berbasis bunga.

“Ini menjadi bukti bahwa tiap desa itu punya one village one produck atau satu desa satu produk unggulan, baik di bidang wisata, budaya, ekonomi maupun kuliner. Jika ini berjalan maka banyak sekali potensi desa wisata di Wonosobo”, tandasnya.

suarabaru.id/Muharno Zarka

1 COMMENT

  1. Saya kecewa dengan artikel ini. Saya yang punya ide, saya yang bangun greenhouse dengan susah payah, saya yang capek. Kok mik dicatut anas. Kalo mau tau infonya seperti apa, tanya ke saya langsung. Ini namanya pencatutan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here