Bagikan
Foto ilustrasi

PADA bulan suci Ramadan ini saya ingin berbagi kisah tentang sosok guru di sebuah pegunungan yang mengajarkan keseimbangan antara  laku dan perilaku kepada siswa dan para tamu yang berkunjung ke kediamannya.

Rumah beliau ini sering didatangi tamu dari berbagai profesi dengan berbagai persoalan yang diadukan. Misalnya, calon lurah yang tak punya modal, makelar tanah agar negonya mudah, pemborong terlilit utang empat miliar rupiah hingga  hampir bunuh diri, termasuk mereka yang sulit jodoh.

Aktivitas beliau di bidang ritual adalah mujahadah setiap 40 hari yang dihadiri 500 peserta dari desa setempat dan dari luar daerah. Semua jamaah disuguhi makan. Uniknya, walau pengasuh pesantren, dalam keseharian beliau masih tetap kerja layaknya petani seperti mencangkul, membajak sawah, dan berkebun salak.

Santri beliau  tidak banyak, hanya 40 orang dan kebanyakan usia anak dan remaja dan tujuh santri yatim piatu yang ikut beliau sejak kecil. Keberadaan ketujuh Santri itu dijadikan “jimat”. Setiap kali ada tamu yang datang untuk suatu keperluan, beliau berdoa dan ketujuh santri itu diminta mengamininya. Beliau berkata “Kalau doaku sendiri tidak manjur, yang manjur itu karena diamini anak-anak yatim ini.”

Guru itu selalu berpesan kepada para santri dan tamunya, yaitu, ”Jangan biasakan minta kepada sesama makhluk. Karena makhluk itu pelit, mintalah kepada Tuhan yang Mahapemurah.” Pesan lainnya, “Rajinlah bersedekah dan salat malam, karena itu kunci segala kemudahan, kedamaian dan keberkahan hidup”. Juga nasihat lain, jadi orang  jangan malas, “sapa gelem rekasa, insya Allah bakal mulya”.

Rahasia Istikamah

Yang beliau tekankan kepada para santri dan para tamu adalah pentingnya menjaga istikamah atau kerutinan dalam menjalankan laku sosial atau ritual. Di antara nasihat beliau ”Kalian itu walau ibaratnya sudah punya kamar mandi, jangan hanya mandi di kamar mandi sendiri.”

“Mandilah ke  sungai sambil  membawa ember, dan saat pulang membawa pasir dan batu satu ember.  Lakukan itu setiap pagi sore, maka dalam waktu tiga tahun, kamu sudah punya timbunan pasir dan batu yang cukup untuk membangun rumahmu,” katanya.

“Belajarlah sabar seperti pohon yang bertumbuh hanya satu mili dalam seminggu, dan tahu-tahu sudah tinggi, besar, dan berbuah.” Intinya,  Istikamah atau menjaga kerutinan dalam usaha dan doa itu tak perlu mikir kapan hasilnya, karena yang utama adalah menjaga kerutinannya.

Itu yang diajaran beliau. Dan untuk kepentingan apapun, baik  urusan dunia akhirat,  murid dan tamu  disarankan mengamalkan wirid  Surat At-Thalaq 2 – 3 sekaligus menghayati artinya: “Waman yattaqillaha yaj’allahu makhraja wa yarzuqhu min haitsu la yahtasib. Waman yatawakkalu ‘allahi fahuwa hasbuh. Innallaha balighu amrihi qad ja’alahullahu likulli syaiin qadra.

Yang artinya “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath Thalaq: 2-3)

Sufi Klasik

Selain ajaran yang bersifat ritual, ajaran yang bersifat sosial khas para Sufi klasik pun dikenalkan bagi siapa yang ingin pencerahan. Agar orang terhindar dari berbagai kesulitan, beliau sering berpesan,” Jangan suka menyakiti makhluk hidup apa pun bentuknya, karena makhluk itu milik Allah, perhatikan itu agar hidupmu nanti dijauhkan dari kesulitan.”

Karena itu, saat beliau dan para santri ke sawah akan panen padi, dan ketika sebagian dari padi itu banyak yang dimakan tikus dan burung. Nasihat  beliau adalah “ Ya sudah tidak apa-apa.. kita niat  mengambil sisa tikus dan burung.”

Di sawah, para santri tidak diperbolehkan menutup lubang tikus atau membuat “memedi” (orang-orangan sawah) untuk menakuti-nakuti kawanan burung,  karena burung  dan hewan lain juga perlu makan. “Kasihan jika jalan makannya kita buntu,” Tuturnya.

Pernah suatu hari sang istri mengeluhkan kondisi rumah pribadinya yang hanya berlantai biasa, dan minta agar dikeramik. Apa jawab beliau?  “Masjid saya tidak pakai keramik, kok rumah saya mau dikeramik, saya malu sama Gusti Allah.” Selang tujuh hari kemudian tiba-tiba ada tamu yang mengantar keramik untuk masjid.

Dalam mengasuh tujuh putra-putrinya, tidak ada yang dimanjakan. Beliau berkata, “Anak-anak tidak akan saya bekali harta, cukup saya warisi kitab, biar mereka mencari sendiri dengan ilmunya.” Ketika ditanya tentang bagaimana agar anak-anak menjadi sukses?

Beliau memberi saran, “Setiap malam Jumat, anak-anak itu sarankan membacakan Surah Alfatihah 77  kali untuk kedua orangtua, baik selagi masih hidup maupun yang sudah meninggal. Insya Allah, hidup anak-anak nanti  menjadi lebih berkah.

Konsep ini pernah dibuktikan, ketika ada calon tenaga kerja sowan karena  sudah terlalu lama dipenampungan dan belum juga berangkat, oleh beliau disarankan mengirim Surah Al-Fatihah 77 kali ditujukan untuk Ibu dan Bapaknya, dan tiga hari kemudian dia dapat panggilan untuk berangkat.

Pesan beliau,”Jika ada keperluan mendesak, utamakan mendatangi Ibu dan Bapakmu dulu, setelah itu baru yang lain.”

Masruri, praktisi dan konsultan metafisika tinggl di Sirahan, Cluwak, Pati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here