Bagikan

Oleh: Dr H M Afif Anshori, MAg
Dekan FUSA UIN Raden Intan Lampung
Perantau asal Kauman Utara Wonosobo-Jawa Tengah

Dr H Afif Anshori MAg, Dekan FUSA UIN Raden Intan Lampung. Foto : SB/dok

Kehidupan beragama Islam di Indonesia sangat unik lantaran memiliki kekhasan yang tidak ada di Negara manapun. Hal inilah yang menarik perhatian berbagai kalangan, mulai dari ilmuwan, akademisi, pemerhati social keagamaan sampai para ahli agama (ustadz), dengan berbagai perpsektifnya masing-masing.

Keunikan ini terletak bukan pada “core” keislamannya, yang memang sejak zaman Rasulullah sudah baku, melainkan pada bingkai implementasi keberagamaannya. Sebut saja misalnya ada tradisi slametan, kenduri, punggahan, marhabanan/ berjanjen, termasuk tradisi lebaran dengan berbagai pernak perniknya.

Jika dicermati, sesungguhnya keanekaan tradisi keagamaan di Indonesia ini muncul parallel dengan proses Islamisasi di nusantara yang disebarkan oleh ulama tasawuf. Pola penyebaran sufistik seperti ini memiliki corak spesifik, yakni akomodatif dengan tradisi lokal, persuasif, moderat, bahkan menciptakan model tradisi baru yang khas nusantara.

Konon, adalah Sunan Kalijaga yang pertama kali memperkenalkan budaya lebaran pada masyarakat Jawa. Beliau memperkenalkan dua kali lebaran: lebaran iedul fitri dan lebaran kupat (ketupat). Kata lebaran berasal dari kata lebar (Jawa) yang berarti sesudah atau dalam bahasa Arabnya ba’da, yakni sesudah menyelesaikan puasa ramadan. Itulah sebabnya, mengapa dalam masyarakat Jawa, lebaran sering disebut bakda atau bodo.

Lebaran kupat yang dilaksanakan seminggu sesudah idul fitri, dimana umat Islam ada yang melanjutkan puasa sunnah Syawal selama 6 hari, dan diakhiri dengan makan ketupat (kupat). Tapi, sebenarnya tradisi makan ketupat itupun merupakan salah satu pernik lebaran idul fitri yang disajikan bersama opor ayam dan pecel sayuran.

Secara filosofis, kata kupat (ketupat) merupakan akronim dari ngaku lepat atau mengakui kesalahan dan laku papat atau empat tindakan. Ngaku lepat diwujudkan dalam bentuk tradisi sungkeman, yaitu duduk bersimpuh kepada orang yang lebih tua sembari ngaku lepat (mengakui kesalahan). Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain.

Adapun makna laku papat atau empat macam tindakan seorang muslim Jawa adalah Lebaran, Luberan, Leburan dan Laburan Lebaran artinya sudah usai, yang menandakan berakhirnya waktu puasa ramadhan.

Dr H Afif Anshori MAg, perantau asal Kauman Utara Wonosobo. Foto : SB/dok.

Lubèran berarti meluber atau melimpah, yakni ajakan untuk bersedekah kepada kaum miskin dalam bentuk mengeluarkan zakat fitrah. Leburan atau musnah, lebur, mengandung maksud dosa dan kesalahan akan melebur habis karena setiap umat Islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain.

Laburan, berasal dari kata labur, mengusap dengan kapur yang biasa digunakan untuk penjernih air maupun pemutih dinding. Maksudnya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batinnya.

Kupat itu harus dibungkus dengan daun kelapa muda atau janur. Konon, kata Janur, diambil dari bahasa Arab yaitu Jâ-a Nûr yang berarti “telah datang cahaya”. Bentuk kupat yang berbentuk segi empat ibarat hati manusia. Saat orang sudah mengakui kesalahannya maka hatinya seperti “kupat yang dibelah”, pasti isinya putih bersih, hati yang tanpa iri dan dengki, lantaran hatinya sudah dibungkus cahaya (jâ-a nûr).

Tradisi Lebaran

Kearifan keagamaan (religious wisdom) yang dirintis para ulama dengan pendekatan sufistik ini sampai kini masih tetap dilestarikan, bahkan sudah menjadi “trade mark” keislaman Nusantara. Ada beberapa kegiatan yang sudah menjadi tradisi lebaran bagi masyarakat Indonesia.

Tradisi lebaran ini sudah terjadi secara turun-temurun sebagai warisan budaya bangsa yang masih belum terkikis oleh modernisasi jaman. Berikut ini kegiatan yang sudah menjadi tradisi lebaran bagi masyarakat Indonesia:

Mudik

Banyaknya para perantau, baik dari luar kota maupun luar pulau untuk mencari nafkah jauh dar kampong halaman, membuat tradisi mudik tidak pernah terlewatkan di setiap Lebaran dari tahun ke tahun.

Apalagi libur lebaran umumnya lebih panjang daripada libur di hari lain, sehingga orang-orang memiliki banyak waktu untuk pulang kampung ataupun berkunjung ke sanak saudara yang berada jauh khususnya orang tua.

Mudik merupakan tradisi terbesar di hari Lebaran bagi masyarakat kita. Para pemudik bisa mencapai puluhan juta per tahun.

Sejalan dengan pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia, istilah mudik menjadi marak dibahasa para netizen yang dihadapkan dengan istilah pulang kampung. Istilah mudik dimaknai sebagai kembali ke udik, mengunjungi tempat asal usul kelahiran, setelah lama merantau.

Mereka yang mudik ini adalah yang telah menjadi “orang rantau”, dan oleh karena masih memiliki sanak keluarga di tanah kelahirannya, maka ia mengunjunginya di hari lebaran terebut.

Sebaliknya, istilah “pulang kampung” adalah mereka yang bekerja mencari nafkah di rantau kemudian kembali ke rumah asal di kampung sebagai tempat menetapnya.

Halal Bi Halal

Halal bi halal adalah istilah untuk saling mengunjungi teman, tetangga, dan sanak saudara untuk saling bermaaf-maaf-an. Biasanya, halal bihalal diiringi dengan sungkeman, yakni bersalaman sambil bersimpuh memohon maaf dan memohon do’a restu kepada orang tua atau orang yang dituakan.

Tradisi ini bahkan juga mengikuti perkembangan jaman dengan melakukan halal bi halal melalui media online dan gadget modern. Kini banyak di antara kita yang saling bermaafan melalui handphone, WA, FB, serta media social lainnya.

Takbir keliling

Malam Lebaran selalu ditandai dengan kumandang takbir untuk merayakan hari kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa. Dan sebagai tradisi, kita sering melakukan takbir keliling baik dengan menggunakan kendaraan maupun sekedar berjalan kaki. Kebersamaan masyarakat sangat terlihat di saat-saat seperti ini.

Menabuh bedug (ndrudag/ tedur)

Dengan bersamaan kumandang takbir, umumnya orang-orang juga akan menabuh bedug sebagai ungkapan kebahagiaan mereka. Tabuhan bedug ini dilakukan seirama sehingga membuat suasana malam lebaram semakin marak dan mengharukan.

Ketupat

Sepulang shalat Idul Fitri, biasanya menu sarapan berupa ketupat sudah tersaji dengan menarik. Ketupat Lebaran ini biasanya dimakan dengan opor ayam, rending daging, semur dan kerupuk udang. Bahagia rasanya berkumpul bersama keluarga dan makan ketupat Lebaran bersama-sama.

Saling mengirim makanan

Saling mengirim makanan ke tetangga sebelah maupun sanak saudara yang agak jauh juga merupakan tradisi turun temurun dari nenek moyang.

Selain untuk tetap menjaga tali persaudaraan antar warga, tradisi ini juga menjadi ajang saling memberi kepada keluarga yang kurang mampu dan berbagi kebahagiaan di hari Lebaran.

Tunjangan Hari Raya (THR)

Istilah ini sebenarnya disematkan kepada para pegawai yang memperoleh bonus atau hadiah dari lembaga tempat bekerja, untuk merayakan Iedul Fitri. Namun kemudian digunakan pula untuk masyarakat umum. THR atau uang saku ini sudah menjadi tradisi untuk dibagikan kepada anak-anak kecil. Hal ini juga yang paling ditunggu-tunggu.

Selain itu perusahaan-perusahaan juga akan mengeluarkan THR untuk para karyawannya, pemerintah juga memberikan THR kepada para Apartur Sipil Negara, TNI/POLRI serta para pensiunan.

Pakaian Baru

Tradisi ini sebenarnya menjadi symbol bahwa Lebaran adalah hari yang fitri dan kita terlahir seperti baru kembali, sehingga pada umumnya orang mengenakan pakaian baru. Maka tidak heran jika menjelang lebaran tiba, pusat perbelanjaan dipadati pengunjung.

Ziarah makam

Setelah lepas sholat Idul Fitri biasanya warga akan berbondong-bondong berziarah ke makam leluhur dan orang tua untuk mendoakan arwah mereka.

Rekreasi

Menghabiskan waktu libur lebaran biasanya saling mengunjungi rumah saudara dan sekaligus berpergian ke tempat wisata. Tradisi ini membuat tempat-tempat wisata penuh dikunjungi orang-orang yang ingin menghabiskan waktu lebaran bersama keluarga.

Petasan

Meski jauh-jauh hari sudah ada himbauan dan razia, petasan tetap muncul di sana sini. Tradisi ini susah diberantas karena sudah berakar. Setiap Lebaran tiba, pasti banyak orang berjualan kembang api dan petasan.

Balon Udara

Tradisi melepaskan balon udara di hari lebaran ini nampaknya hanya khas di Wonosobo. Balon yang terbuat dari kertas dlancang (kertas minyak) ini dirancang dengan berbagai ukuran dan warna-warni, kemudian diterbangkan dengan kekuatan asap pembakaran yang diletakkan di mulut balon.

Tradisi Islam Nusantara sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, sesungguhnya merupakan khazanah kebudayaan yang patut dilestarikan dari generasi ke generasi, yang tidak tergerus oleh budaya modern, bahkan mampu melakukan penyesuaian diri dengan perkembangan jaman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here