Bagikan
Warga masih berjubel di kompleks Keraton Sejagat di Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan, Purworejo, Selasa petang 14/1. (Foto: Suarabaru.di/Komper Wardopo)

PURWOREJO (SUARABARU.ID) – Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo yang terletak di tengah sawah dan biasanya tenang, sontak menjadi gempar. Bahkan hingga Selasa (14/1) petang warga dari berbagai daerah masih berduyun-duyun mendatangi “Keraton Sejagat” di Desa Pogung Jurutengah, yang bersebelahan dengan Desa Jono, Kecamatan Bayan, arah timur jalan Kutoarjo-Ketawang.

BACA JUGA Motif Pendirian Keraton Agung Sejagat di Purworejo Didalami

Mereka bukan hanya berasal dari sekitar Purworejo seperti Kecamatan Butuh, Kutoarjo, Grabag, Pituruh dan lainnya namun juga ada yang datang jauh dari Bandung, Surabaya, Padang, Medan hingga NTB.  Apalagi berita tentang aktivitas Keraton Sejagat di Kampung Pogong Jurutengah itu telah viral di media on line dan televisi sejak tiga hari terakhir.

Menurut Inten Evelin (32), wanita asal Cimahi Bandung, dia sudah tiba di Istana Keraton Sejagat sejak pagi subuh. Tujuannya bersilaturahmi dengan sang Raja dan penasaran dengan pemberitaan di media. Namun sang Raja yang disebut bernama Totok Santosa Hadiningrat dikabarkan pergi ke Yogyakarta dan belum kembali ke keraton.

Warga hanya bisa menjumpai sebuah prasasti dari batu hitam yang dipasang di depan rumah serta melihat sebuah bilik Istana dengan meja kursi sederhana yang sudah ditutup. Sementara di area pekarangan yang dipagar batako nampak ada calon pendapa yang belum jadi, baru ada empat tiang. Di samping istana ada kolam lumayan besar yang kabarnya sering untuk kegiatan kungkum. Warga yang berdatangan berkerumun dan bergerombol di pekarangan tersebut. Sebagian ada yang berdesakan melihat dalam istana yang kosong atau membaca prasasti.

Di sisi lain, di dalam keraton tidak ada penghuni yang bisa dimintai keterangan. Menurut Jumeri (80), warga RT 03 RW 01 Desa Pogung Jurutengah yang rumahnya bersebelahan dengan keraton itu mengaku, pekarangan yang dipakai untuk kompleks Istana dan dipagar batako itu dulunya tanah kosong. Baru dipagar batako sebulan lalu.”Kalau disebut keraton memang iya, namun itu tanah kosong atau keraton jin. Hanya orang tertentu yang bisa melihatnya,”ujar lelaki yang masih kekar itu.

Dihentikan Sementara

Sementara itu petugas Polres Purworejo, Polsek Bayan dan Pemkab Purworejo terus berjaga di lokasi tersebut. Bahkan Kabag Humas Setda Purworejo Rita Purnama SSTP juga berada di lokasi tersebut hingga petang hari. Sedangkan para pemuda ikut sibuk melayani parkir sepeda motor dan mobil pengunjung yang terus berdatangan  ke Keraton Sejagat melalui beberapa jalan desa.

Menurut Kabag Humas kepada Suarabaru.id, aktivitas di lokasi Keraton Sejagat itu sudah dipantau Pemkab. Bahkan Selasa siang telah dirapatkan di Pemkab yang dipimpin Asisten III Sekda Pram Prasetyo, dihadiri Ketua DPRD, Dandim Purworejo, Wakapolres Purworejo dan Danyon 412/Purworejo. Dari rapat tersebut disepakati agar aktivitas di Keraton Sejagat dihentikan sementara. Sebab kegiatan tersebut dinilai sudah meresahkan masyarakat karena tidak berizin.

Kabag Humas meminta kepada pihak pengelola Keraton Sejagat untuk memenuhi ketentuan yang berlaku. Bila aktivitas anggota kelompok berbentuk ormas, seyogyanya juga mengurus perizinan ke instansi yang berwewenang.”Kegiatan ini dikategorikan tidak resmi sehingga harus mengurus izin dulu. Bila sudah resmi berizin artinya legal boleh jalan lagi,”tandas Kabag Humas.

Rita Purnama mengakui pula bahwa berbagai instansi terkait masih terus mendalami aktivitas Keraton Sejagat. Sebab dimungkinkan dari pencermatan dan laporan yang masuk ada kegiata menarik uang anggota serta ada aktivitas yang menyimpang dari agama resmi.

Kepada masyarakat, Kabag Humas Pemkab berpesan tidak usah resah. Pemkab sejauh ini terus memantau dan mengamankan lokasi serta menjaga situasi agar kondusif. Bagi masyarakat yang merasa dirugikan  diharapkan melapor ke petugas. Masyarakat juga diminta tidak mudah tergiur dengan berbagai upaya atau modus yng menjurus ke penipuan.

Sosok Totok Santosa Hadiningrat tidak bisa dilepaskan dari kelompok Keraton Agung Sejagat.  Dia mengaku sebagai pemimpin kelompok tersebut dan memiliki istri yang bernama Dyah Gitarja yang sering dipanggil Kanjeng Ratu. Totok mengklaim dirinya merupakan Rangkai Mataram Agung yang menjadi juru damai dunia. “Kita umumkan pada dunia bahwa Keraton Agung Sejagat sebagai induk daripada seluruh Kingdom State Tribune Koloni yang ada di seluruh dunia ini, menyatakan sebagai juru damai terhadap konflik yang terjadi di seluruh dunia,” ungkapnya dalam video yang beredar di media sosial.

 

Istana Keraton Sejagat kosong dan hanya ada meja kursi sederhana.(Foto:Sb.id/Komper Wardopo)
Kabag Humas Pemkab Purworejo Rita Purnama.(Foto :Sb.id/Komper Wardopo_

Komper Wardopo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here