Bagikan
Selain dijual secara eceran di tokonya yang ada di Ruko Pasar Rejowinangun Kota Magelang, gethuk gondok buatan Ny Sri Rahayu dikemas secara khusus menggunakan tampah yang sering dipesan untuk berbagai acara. Foto: Suarabaru.id/ Yon

MAGELANG, (SUARABARU.ID)-Kota Magelang terkenal dengan sebutan Kota Gethuk. Di Kota tersebut banyak dijumpai aneka macam dan merek makanan yang terbuat dari singkong. Salah satunya yakni gethuk gondok .

Gethuk gondok khas Kota Magelang tersebut merupakan cikal bakal dari Gethuk gondok yang terkenal di Kota Magelang dibuat oleh Sri Rahayu yang tinggal di Kampung Karet, Desa Bulurejo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang.

Sri Rahayu mengatakan, usaha yang dijalaninya merupakan usaha warisan dari kakeknya yang bernama mBah Ali Mochtar.

“Gethuk ini dinamai gethuk gondok karena, nenek saya memiliki penyakit gondok. Jadi orang-orang menyebut gethuk gondok,” katanya.

Namun, dengan trade mark “Gondok” tersebut, gethuk buatannya kini banyak diburu para penikmat kuliner khususnya gethuk. Salah satu ciri khasnya yakni bentuknya yang bulat sebesar bola bekel. Selain gethuk, dirinya juga menjual penganan lainnya yakni jongkong dan klepon.

Hanya dengan uang Rp 15.000, sudah dapat menikmati aneka macam gethuk yang tersaji dalam kemasan kecil. Selain itu, dirinya juga menerima pesanan baik skala kecil maupun besar untuk acara-acara seperti arisan, kumpul keluarga, rapat, resepsi, dan lain sebagainya.

Menuruntya, sejarah gethuk gondok tersebut sangat panjang. Yakni, saat zaman penjajahan Jepang, beras merupakan barang langka . Sementara hasil kebun berupa ketela banyak terdapat di sekitar rumah maupun dijual di pasar.

Mbah Ali Mochtar, sang pencipta gethuk gondok mencoba untuk mengolah ketela dengan cara dikukus kemudian dihaluskan sekedarnya dan dicampur dengan gula. Dari sanalah era gethuk dimulai.

“ Pada saat itu, untuk menghaluskan ketela masih menggunakan cara manual yaitu dengan cara ditumbuk oleh 4 – 6 orang dalam sebuah lesung,”kenang Sri Rahayu yang merupakan generasi ketiga pembuat gethuk gondok.

Seiring perkembangan zama ,di tahun 1985, mbah Ali berhasil membuat mesin penggilas ketela yang dapat membuat adonan gethuk menjadi lebih cepat halus.

Sedangkan untuk berjualan, ia memasrahkan semuanya kepada putra-putrinya. Ia hanya menangani pembuatan gethuk di rumah dibantu oleh 10 orang karyawan, dimana 5 orang diantaranya merupakan pekerja dari luar. Sedangkan 5 lainnya merupakan anak-anak, famili termasuk dirinya.

Untuk mempertahankan cita rasa yang khas, meskipun telah memiliki 10 orang karyawan,Ny Sri Rahayu terjun langsung mengawasi proses pembuatan gethuk.

“Ini salah satu upaya mempertahankan pelanggan agar tetap setia dengan gethuk buatannya,” ujarnya.

Dalam proses pembuatannya, ia juga mempertahankan untuk menggunakan bahan-bahan yang alami seperti gula dicampur dengan garam , mentega putih, pewarna makanan dan penambah aroma.

“ Untuk pewarnaan coklat menggunakan pewarna alami yakni gula jawa bubuk coklat,”ujarnya.

Menurutnya, setiap harinya gethuk buatannya tersebut bisa mencapai 1,5 kwintal. Dan, sejak awal usahanya tersebut, ia tidak pernah mencampurkan bahan pengawet ataupun pemanis buatan.

Meskipun demikian, gethuk buatannya bisa bertahan selama dua hari,karena selama proses pembuatannya. Selain itu , pihaknya selalu menjaga kebersihan alat –alat yang digunakan dan bahan bakunya .

 Yon- wahyu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here