Bagikan
Suasana antrian Gudeg Pawon

Kota Yogyakarta memiliki berbagai macam makanan khas, selain bakpia ada salah satu makanan yang menjadi favorit semua kalangan yang kini menjadi ikon makanan di kota Yogyakarta yaitu Gudeg. Hampir di semua sudut kota banyak yang menjajakan gudeg namun disetiap tempat memiliki keistimewaan masing-masing.

Seperti Gudeg Yu Djum yang sudah melegenda dan berdiri sejak tahun ’50an, Gudeg Permata yang selalu ramai, Gudeg Yu’ Yah yang tempatnya hanya dipinggiran jalan namun selalu banyak antriannya, dan tentu saja Gudeg Pawon yang jika kita tidak mengantri lebih cepat, kita tidak akan punya kesempatan untuk menikmati gudeg satu ini.

Prapto Widarso, awalnya berjualan gudeg di Pasar Sentul Yogyakarta pada pukul 3 pagi untuk para penjual maupun pembeli di pasar yang datang pada pagi hari, memanjakan perut pembelinya sebelum memulai aktivitas.

Namun ternyata, antusiasme dari konsumen semakin lama semakin baik, bahkan membuat antrian panjang di pasar hanya demi menikmati gudeg bikinan Prapto Widarso ini. Tak hanya itu, banyak pelanggan yang merasa cocok dengan rasanya, sehingga para pelanggan datang langsung ke rumah untuk menikmati makanan khas Jogja ini.

Dikarenakan seringnya gudeg habis sebelum sempat dijajakan di pasar, pada tahun 2000 Prapto Widarso memutuskan untuk menjual gudegnya di rumah dan merubah jam operasi yang semula pukul 3 pagi menjadi pukul 22.30 WIB dan kini berubah lagi menjadi pukul 22.00 WIB

Berpindahnya tempat berjualan Gudeg Pawon dari Pasar Sentul ke kediaman Praprto yakni di Jl. Prof. DR Soepomo, Janturan Umbulharjo, Yogyakarta ini juga memiliki dampak positif untuk warga sekitar karena beberapa dari warga juga mendapat keuntungan dengan menjadi tukang parkir untuk penghasilan tambahan.

Menilik tentang keunikan Gudeg satu ini, ternyata Gudeg Pawon untuk pengolahan makanannya menggunakan tungku kayu bakar, bagi si pemilik, ketika gudeg dimasak menggunakan alat selain tungku kayu bakar, rasa gudeg olahannya akan berbeda sehingga anak dari Prapto Widarso, yaitu Sumarwanto yang kini menjadi pemilik Gudeg Pawon lebih memilih untuk menggunakan kayu bakar yang sudah dikontrol kualitasnya oleh penyedia kayu bakar langganannya.

Keunikan lainnya adalah konsep nya yang menggunakan pawon atau dapur sebagai tempat mengambil makanan. Pengunjung akan masuk ke dapur dan mengambil gudeg yang disediakan oleh anggota keluarga Sumarwanto dan bisa makan ditempat maupun dibungkus.

Terkenalnya gudeg Pawon membuat pengunjung yang datang semakin banyak, antrian pun memanjang bahkan sebelum jam buka. Bahkan, ada yang menunggu dari jam 8 malam untuk menikmati satu porsi gudeg dari tempat ini padahal jam buka nya adalah pukul 22.00. Tapi jangan salah, jika kita tidak buru-buru mengantri, gudeg di tempat ini bisa habis bahkan sebelum satu jam setelah jam buka.

suarabaru.id/wahyu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here