Bagikan
Aneka macam masakan lauk pauk, disajikan dalam Nasi Jamblang sebagai menu kuliner unggulan khas Cirebon. Pembeli bebas memilih akan memakai lauk yang mana dan dapat berjenis-jenis macamnya.

CIREBON – Sega (Nasi) Jamblang, masuk dalam kasanah kuliner unggulan khas Cirebon, Jabar. Ciri khas makanan ini, menggunakan pembungkus dari daun Jati. Dulu, Nasi Jamblang sebagai ransum bagi para pekerja rodi (paksa) di zaman Belanda, tatkala pembangunan Jalan Daendels dilakukan. Tapi sekarang, menjadi menu kuliner unggulan di Cirebon, yang banyak dijajakan di restoran atau rumah makan.

Jalan Daendels, dikenal sebagai Jalan Raya Pos (De Grote Postweg), panjangnya kurang lebih 1.000 km, membentang sepanjang utara Pulau Jawa, dari Pantai Anyer sampai Panarukan. Dibangun pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, yang pada tiap-tiap 4,5 kilometer (KM) didirikan pos sebagai tempat pemberhentian dan penghubung pengiriman surat-surat. Jalan tersebut dibangun untuk memperlancar komunikasi dan transportasi antar-daerah yang dikuasai penjajah Belanda. Juga dijadikan benteng pertahanan di sepanjang Pantai Utara (Pantura) Pulau Jawa, untuk menangkal serangan Inggris.

Parasarana jalan legendaris tersebut, dibangun hanya dalam tempo satu tahun (Tahun 1808). Dengan mewajibkan setiap penguasa pribumi lokal, untuk memobilisasi rakyat bekerja rodi dengan target pembuatan jalan yang telah ditentukan masing-masing panjang kilometernya. Yang gagal, termasuk para pekerjanya, dibunuh. Kepala mereka, digantung di pucuk-pucuk pepohonan di kiri-kanan ruas jalan.

Nasi Jamblang, disajikan di piring yang dilapisi daun Jati. Ini menjadi sesuatu yang khas pada menu kuliner unggulan Cirebon tersebut.

Terlepas dari historis Jalan Daendels yang banyak memakan korban anak bangsa tersebut, disebutkan bahwa Nasi Jamblang ketika itu menjadi ransum bagi para pekerja rodi. Penyebutan Nasi Jamblang, sebenarnya berasal dari nama desa di Cirebon barat. Sebagai produk unggulan kuliner Cirebon, Nasi Jamblang kini disajikan di meja panjang untuk prasmanan di restoran atau rumah makan.

Sebagai sajian kuliner prasmanan, dilengkapi lauk bermacam-macam. Yakni sambal goreng, tahu berkuah, sayur, paru-paru, semur hati dan daging. Disajikan pula perkedel, satu kentang, telur dadar, telur masak sambal goreng, semur ikan, ikan asin, tahu dan tempe goreng. Namun salah satu menu yang menjadi ikon dari Nasi Jamblang adalah balakutak hideung, yaitu cumi-cumi atau sotong berkuah kental, yang dimasak bersama dengan tintanya, sehingga berwarna hitam mirip Rawon.

Sebagai menu kuliner khas Cirebon, Nasi Jamblang banyak dijajakan di warung dan kedai makan, restoran, sampai ke lapak Pedagang Kaki Lima (PKL). Dadang, pria asal Bandung yang telah lama berjualan Tahu Gejrot di Cirebon, menyatakan, harga Nasi Jamblang sebenarnya murah. Khusus nasinya saja hanya Rp 2 ribu. Harga menjadi mahal, ketika mengambil hampir semua jenis lauk dijajakan.

Keberadaan daun Jati menjadi yang tidak dapat terlepaskan dalam sajian menu khas Cirebon untuk Nasi Jamblang. Daun jati mampu menjaga nasi tetap pulen bila dibawa untuk oleh-oleh orang rumah.

Betapa lezat dan nikmat rasa Nasi Jamblang, itu ditandai oleh restoran dan warung penjualnya yang selalu ramai dibanjiri orang. Sebagaimana yang terjadi di restoran gedung bertingkat dua milik Ibu Nur di Jalan Cangkring 2 Cirebon misalnya, tidak pernah sepi dari serbuan pembeli. Pembeli dapat mengambil nasi sendiri sesuai selera masing-masing. Kemudian melengkapinya dengan memilih aneka macam lauk yang dijajakan di meja panjang.

Dewi, salah seorang wisatawan dari Solo, Jateng, menyatakan, Nasi Jamblang yang menjadi salah satu kuliner tradisional Cirebon, memiliki karakter kuat dan tidak tergantikan oleh kuliner lain, meski ada yang mirip sekalipun. Disamping banyak ragam jenis lauknya, ada balakutak hideung yang dia suka.

Para pembeli mengambil sendiri nasi beserta kelengkapan lauk pauknya. Demikian yang terjadi di RM Bu Nur yang menjajakan Nasi Jamblang sebagai menu kuliner unggulan Cirebon.

Para penikmat kuliner Nasi Jamblang, diajarkan makan dengan cara pesisiran, seperti misalnya tidak menggunakan sendok dan garpu. Uniknya, mereka duduk santai sederajat sama rendah, dan melebur jadi satu komunitas untuk bersama-sama menyantap Nasi Jamblang. Cara makan Nasi Jamblang model pesisiran ini, bagai membangun kebersamaan yang menyatu, untuk menghilangkan sekat strata dan status sosial.

Bagi para wisatawan penggemar Nasi Jamblang, kiranya dapat memilih untuk makan di restoran atau rumah makan yang selalu laris dibanjiri pembeli. Dimanakah itu ? Datang saja ke Rumah Makan (RM) Bu Nur di Jalan Cangkring 2 Cirebon, di RM depan Pasar Jamblang di Jalan Raya Jamblang Nomor: 100, Kasugengan, Cirebon. Atau ke RM Pelabuhan di Jalan Bima Nomor: 2 Cirebon. Juga ada RM Nasi Jamblang Mang Dul, di Jalan Cipto Mangunkusumo Nomor: 8 Pekiringan, Cirebon, dan RM Nasi Jamblang Pitri yang masih satu kompleks di Pekiringan, Cirebon.

Jangan terlupa, bila pulang bawakan oleh-oleh Nasi Jamblang untuk anggota keluarga yang di rumah. Nasi Jamblang yang dibungkus memakai daun Jati, memiliki kelebihan nasinya tetap bertahan pulen. Lain halnya bila dibungkus memakai kertas atau jenis pembungkus yang lain.

 

suarabaru.id/Bambang Pur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here