Bagikan
Pelncuran buku Birokrat Gaul Taat Asas ditandai dengan diskusi bersama narasumber Sasongko Tedjo, Dr Hilman Nugroho, dan Prof Sudharto P Hadi dengan pemandu Nadia Sita. Foto: Tony RS

RESENSI BUKU
Judul Buku:Birokrat Gaul Taat Asas (Jejak Hidup Sri Puryono)
Penulis:Amir Machmud (Editor), Agus Widyanto, Solikun, Ade Oesman, M Jokomono, Wisnu Aji.
Penerbit:Mimbar Media Utama, Semarang.
Tebal:250 halaman.
Cetakan:Ke-1, 2019.

Kisah tentang “Mr Good Man”. Itulah kesimpulan setelah membaca 250 halaman buku Birokrat Gaul Taat Asas (Jejak Hidup Sri Puryono) ini. Testimoni para kolega boleh jadi akan berasa subjektif, karena warna kesaksian memang lazim mengetengahkan sisi-sisi baik dari seseorang, apalagi ketika dituangkan di dalam naskah buku. Akan tetapi, jejak perjalanan dari kecil, remaja, dewasa, hingga berkarier di birokrasi pemerintahan, pantas menggambarkan Sri Puryono sebagai sosok “orang baik” (good man),lewat beragam pergulatan dan perjuangannya.

Puncak pencapaian kariernyasebagai aparatur sipil negara, dari seorang anak Sekretaris Desa menjadi Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, menunjukkan garis lurus konsistensi birokrat sejati. Sri Puryono membekali diri sejak remaja dengan keluwesan berkomunikasi, untuk membentuk jaringan pertemanan yang baik, dan akhirnya punya “brand” sebagai anak yang suka membantu orang lain, kawan yang punya empati tinggi, dan manusia dengan tingkat respek baik kepada sesama. Semua itu dibentuk oleh latar belakang keluarga, sekolah, kuliah, organisasi, hingga kegemaranterhadap ceritera wayang, bahkan memainkannya dalam berbagai panggung.

Puryono, yang oleh rekan-rekannya sering diledek sebagai “Pur Peyek” karena gemarmakan rempeyek kacang, berkembang menjadi tokoh lintas sekat. Pergaulannya tak sebatas dengan kalangan pemerintahan, khususnya kehutanan, dia juga punya rekam jejak kuat dalam dunia seni dan kebudayaan. Antara lain sebagai penganggit geguritan (puisi berbahasa Jawa), pemain wayang orang, ketoprak, jago macapatan, serta aktif dalam organisasi-organisasi seni dan kebudayaan.Di ranah olahraga, Puryono juga dikenal sebagai aktivis pengurus tae kwon-do dan bola voli.

Terpenting, dalam jejak langkahnya, pria asal Desa Gawan, Kecamatan Tanon, Sragen ini, seperti tertuang dalam Bab 4“Kampus, Habitat Lain”, dikenal pula sebagai akademisi. Gelar doktor dalam bidang kelautan/ lingkungan, sejumlah buku ilmiah, dan artikel-artikel jurnal menjadi gambaran Puryono punya passion dengan dunia kampus. Dia mengajar di sejumlah perguruan tinggi.

Buku ini, yang ditulis oleh lima orang wartawan, terasa renyah dan enak dibaca, seperti membaca sebuah novel, atau reportase panjang jurnalistik tentang perjalanan hidup Sri Puryono. Tim penulis menggunakan teknik mengawali kisah dengan momen kilas balik puncak pencapaian sang tokoh saat mendapat tugas sebagai Sekdaprov Jateng. Poin itu kemudian “dialirkan” dengan tuturan novelik dari dinamika masa kanak-kanak,remaja, kuliah, hingga bekerja sebagai abdi negara dari Jambi ke Semarang.

Penulisan biografi ini tampakmenggabungkan tiga teknik. Pertama, menggali masa lampau dari penuturan si tokoh dan sumber-sumber terdekatnya. Kedua, mengaitkan dengan kiprah aktual masa sekarang. Ketiga, memberi warna opini seperti dalam Bab 3 yang bertitel “Mas Bei Merajut Jiwa Seni”. Bab ini menjadi menarik, karena secara filosofis mengetengahkan analisis mendalam dari seorang guru besar tentang penilaian kiprah Puryono dalam seni-budaya.

Tentu belum semua sisi menarik dalam kehidupan si tokoh yang terungkap dalam biografi ini. Namun, bagaimanapun, buku ini bisa dijadikan referensi inspirasi. Seperti yang ditulis oleh editor, Amir Machmud NS dalam “Inspirasi Ketekunan dan Pengabdian”, biografi sejatinya bukan sekadar sejarah hidup atau history yang sering dipelesetkan menjadi “his story”, sejarah yang ditulis sesuai selera yang punya sejarah. Bukan pilihan diksi dan narasi tentang kebaikan seseorang untuk menampilkan diri melulu sebagai “si baik”.

Atau, seperti yang disampaikan oleh Sri Puryono dalam prakata buku ini, sebuah buku pastilah memaparkan kesan dan menciptakan kesimpulan. “Tentu yang saya harapkan, ada sesuatu yang punya makna untuk dicatat, direnungkan, dan berguna terutama bagi generasi anak cucu saya,” tulisnya.

Bahwa biografi ini menyimpulkan kesan Sri “Mas Bei” Puryono sebagai “the good man”, barang tentu pembaca dan para koleganya punya hak simpul masing-masing. Tony RS

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here