Bagikan
Para petugas tengah melakukan olah TKP saat terjadi kecelakaan di wilayah hukum Polres Grobogan. Selama pelaksanaan OKC 2019 ini, angka kecelakaan menurun. Foto: Hana Eswe.

GROBOGAN – Selama pelaksanaan Operasi Ketupat Candi 2019 yang digelar 29 Mei – 10 Juni 2019, angka kecelakaan lalu lintas terdata turun dibandingkan sebelum OKC digelar yakni pada 16-28 Mei 2019. Hal tersebut dikatakan langsung Kasat Lantas Polres Grobogan AKP I Putu Krisna melalui Kanit Laka Lantas Iptu Candra Bayu Septi.

Saat dikonfirmasi, Iptu Candra mengatakan jumlah laka lantas selama pelaksanaan OKC terdapat 15 kasus. Sebelumnya, angka laka lantas sebelum OKC yakni pada 16-28 Mei 2019 terdata sebanyak 36 kasus.

“Selama pelaksanaan OKC 2019 ini kasus laka lantas yang terdata sebanyak 15 kasus dibandingkan pada dua pekan sebelum pelaksanaan OKC ini yang berada di angka 36 kasus laka lantas. Perbedaannya, pada sebelum pelaksanaan OKC terdata jumlah korban meninggal dunia sebanyak 8 orang dan luka ringan 39 orang. Sementara, selama pelaksanaan tidak ada korban jiwa baik meninggal dunia maupun luka berat. Hanya luka ringan sebanyak 30 orang,” kata Iptu Candra.

Iptu Candra mengungkapkan mayoritas penyebab dari laka lantas yang terjadi yaitu human error dengan berbagai persoalan seperti mengantuk, kondisi jalan dengan penerangan minim atau kondisi kesehatan yang menurun dialami pengemudi.

“Sekiranya dalam berkendara harus benar-benar mentaati aturan berlalu lintas. Pengendara harus mewaspadai lokasi rawan kecelakaan karena banyak jalan dengan kondisi penerangan minim. Ke depannya, kami berharap pengendara benar-benar mempersiapkan fisik yang fit saat berkendara. Bahkan, jangan sampai ada yang berkendara dalam pengaruh alkohol,” kata Iptu Candra.

Selain pelaksanaan OKC 2019, posko lebaran Dinas Kesehatan Grobogan juga mencatatkan kejadian penyakit selama lebaran. Dari data yang diperoleh, kejadian penyakit paling banyak yakni infeksi saluran pernapasan (ISPA) dengan jumlah pasien 149 jiwa.

Sementara penyakit lainnya yakni hipertensi sebanyak 76 jiwa, diare 56 jiwa, gangguan pencernaan 68 jiwa dan penyakit lainnya 165 jiwa. Para pasien yang menderita penyakit tersebut rata-rata melakukan rawat jalan dibandingkan rawat inap.

suarabaru.id/Hana Eswe.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here