Bagikan
Pesta balon udara tradisional akan mewarnai acara Java Balloon Attraction (JBA) yang digelar di Lapangan Desa Pagerejo Kecamatan Kertek Kabupaten Wonosobo, Sabtu (15/6) pagi. (Foto : SuaraBaru.id/Muharno Zarka)

WONOSOBO– Sebuah even bertajuk “Java Balloon Attraction (JBA)” siap digeber di Lapangan Desa Pagerejo Kecamatan Kertek Wonosobo, Sabtu (15/6), pagi. Event ini akan menjadi tontonan menarik bagi warga setempat dan wisatawan.

Selain merupakan agenda wisata, JBA sebagai ajang nguri-uri budaya tradisional menerbangkan balon udara di saat lebaran. Karena tradisi lokal tersebut sudah membudaya di sebagaian masyarakat Wonosobo menyambut datangnya Idul perayaan Fitri.

Hanya saja dalam JBA balon tidak diterbangkan secara bebas. Balon udara tradisional diterbangkan dengan cara ditambat dengan radius ketinggian maksimal 125 meter. Penerbangan balon ditambat agar aman bagi penerbangan pesawat.

Ada ratusan balon unik dan antik akan diterbangkan digelaran wisata dan budaya tersebut. Beberapa komunitas balon dari wilayah Kertek, Kalikajar, Selomerto, Sapuran dan Kepil serta daerah lain di Wonosobo, akan ambil bagian dalam event ini.

Direktur Airnav Indonesia, Novie Riyanto mengatakan balon udara tradisional yang diterbangkan secara liar bisa mengganggu keselamatan penerbangan. Karena itu, pihaknya menghimbau warga untuk menerbangkan balon dengan cara ditambat.

“Ajang JBA yang digelar bareng antara Pemkab Wonosobo dengan Airnav Indonesia merupakan ikhtiar melakukan sosialisasi penerbangan balon secara aman dengan tidak menghilangkan tradisi lokal yang sudah ada sejak dulu kala,” katanya.

Menurut Novie, pihak Kementerian Perhubungan juga telah menerbitkan Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) No 40 tahun 2018, tentang Penggunaan Balon Udara pada kegiatan budaya masyarakat.

“Dalam Permenhub No 40 disebutkan balon udara tradisional boleh diterbangkan dengan ketentuan ditambatkan di tali dengan ketinggian maksimal 125 meter dari tanah. Balon maksimal tinggi 7 meter dan leba 4 meter.”

Selain itu, setiap kegiatan penerbangan balon harus mendapat izin dari otoritas bandara dan Pemerintah Daerah setempat. Warga yang nekat menerbangkan balon secara bebas bisa dikenai ancaman tindak pidana dan diproses secara hukum.

Festifal Sindoro-Sumbing

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dipartabud) One Andang Wardoyo
MSi, Jum’at (14/6), mengatakan JBA merupakan rangkaian dari kegiatan Festival Sindoro Sumbing (FSS) dalam rangka menyemarakan hari Jadi Wonosobo yang ke-194 tahun 2019.

Dikatakan mantan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga (Dikpora) ini, bersamaan dengan rangkaian kegaiatan hari jadi Wonosobo tahun 2019 ini, aneka event besar juga hendak digelar Dipartabud di beberapa Desa Wisata yang ada di Wonosobo.

“Event tersebut meliputi Festifal Sindoro Sumbing (FSS), Trip of Indonesia (TrOI). Kejurnas Paralayang, Temu Bisnis Pelaku Usaha Wisata Jawa Bali, UMKM Exspo, Lomba Foto Nasional, Festival Kuliner Wonosobo dan Konser Musik Bundengan,” paparnya.

Kegiatan FSS akan diisi acara Pagerejo Laku Sikeramat, Ngopi Nang Gunung Sindoro di Telaga Bedakah, Atraksi Balon Udara Tradisional, Sindoro Sumbing Riding and Camping Ground, Sindoro Sumbing Art Performance dan Sindoro Hill Rock and Culinary Party.

“Sedang TrOI di Desa Lengkong akan dimeriahkan dengan Pesta Lampion, Kembul Bujana dan Art Perfomance, Pasar Angkringan dan Kejuaraan Paralayang. Semua acara akan dipusatkan di Desa Lengkong yang punya Gunung Kekep untuk lokasi olah raga paralayang,” sebutnya.

Adapun temu bisnis usaha wisata, imbuh One Andang, akan dilaksanakan di Hotel Surya Asia. Dalam kegiatan tersebut sekaligus akan dilakukan temu investasi pariwisata di Wonosobo. Exspo UMKM dan Festival Carica digelar di Alun-Alun Wonosobo.

“Prosesi hari jadi Wonosobo juga akan mewarnai acara Wonosobo The Soul of Java Event. Kegiatan hari jadi ke 194 meliputi bedol kedaton, parade tapa bisu dan doa lintas agama, birat sengkala dan pisowanan agung, kenduri dan pentas seni,” ucapnya.

Menurut One Andang, selain acara di atas masih ada event budaya berupa Ruwat Cukur Rambut Gembel, Pentas Kolosal Topeng Lengger, Babad Dieng, Rakanan Giyanti, Naga Air di Desa Erorejo dan Kumejing Wadaslintang dan Kirab Budaya Sindoro-Sumbing.

SuaraBaru.id/Muharno Zarka

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here