Bagikan
Pakar Pariwisata dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Dr Ike Jenita Dewi tengah menyampaikan paparan dalam "Sosialisasi Wonosobo the Soul of Java" di Rumah Makan Wonoboga Wonosobo. Foto : SuaraBaru.id/Muharno Zarka.

WONOSOBO-Progam membranding Wonosobo the Soul of Java sudah berjalan satu tahun. Namun hingga kini dampak branding tersebut belum cukup terasa. Ada beberapa hal yang membuat program untuk melejitkan Wonosobo sebagai ruhnya pulau Jawa belum mengena.

“Hal itu disebabkan beberapa hal, yakni media presence yang masih minim. Karena result mesin pencarian google, video, blog instagram twitter maupun facebook serta media sosial lainnya tentang branding Wonosobo the Soul of Java sedikit”, ujar Dr Ike Jenita Dewi.

Menurutnya, selain branding di media sosial minim, penampilan di publik (physical presence) seperti di billboard dan aneka kemasan produk belum dominan. Implementasi pada penciptaan produk seperti produk kuliner dan suvenir juga masih sangat lemah.

Sehingga, imbuh Ike Jenita, branding Wonosobo the Soul of Java pun, meski sudah berjalan satu tahun sejak diluncurkan, dampaknya belum dirasakan secara spektakuler. Branding Wonosobo the Soul of Java tenggelam oleh branding lainnya.

“Guna melejitkan Wonosobo sebagai ruh pulau Jawa perlu ada gerakan yang masif, terstruktur dan sistematis dari semua steakholer di Wonosobo agar kota pariwisata ini mudah dikenal, tidak saja di dalam negeri, tapi bisa mencuat di belahan dunia,” katanya.

Pakar pariwisata dari dari Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta itu mengatakan hal tersebut ketika menjadi pemateri dalam acara “Sosialisasi Wonosobo the Soul of Java”, di Rumah Makan Wonoboga, Wonosobo, Senin (29/4).

Acara sosialisasi “Wonosobo the Soul of Java” yang digelar Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) setempat itu, dihadiri Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dipartabud) One Andang Wardoyo, Asisten Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Sekretariat Daerah (Setda) Sumaedi.

Acara diikuti perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD), dunia usaha, wartawan, seniman dan budayawan, pelaku wisata, perwakilan organisasi masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Para peserta dimintai masukan agar branding Wonosobo the Soul of Java ini bisa cepat menggema di mana-mana.

Makna Slogan

Kepala Dipartabud Wonosobo One Andang Wardoyo mengatakan slogan the Soul of Java punya arti masyarakat Wonosobo dengan kearifan lokalnya merupakan kekayaan sejati Wonosobo. Kearifan dan budaya lokal menghasilkan harmoni antara alam dan manusia yang tercermin dari cipta, rasa dan karya.

“Wonosobo menjadi the Soul of Java” karena sejarah menunjukan kalau wilayah ini merupakan cikal bakal budaya Jawa. Sejarah menunjukan kebudayaan Wonosobo sudah berkembang sejak abad 8. Lebih awal dari pembangunan Candi Borobudur dan Prambanan,” katanya.

Saat ini, papar Andang, Wonosobo tetap menjadi inspirasi bagi Indonesia bahkan dunia sebagai daerah yang menjunjung tinggi hak asasi manusia, beberagaman dan toleransi. Wonosobo boleh dibilang sebagai Indonesia mini karena berbagai agama, suku, ras dan golongan bisa hidup harmoni.

“Java merupakan nama dan tempat yang sudah dikenal di dunia internasional. Selain letak geografis Wonosobo yang berada di tengah pulau Jawa, penggunaan Java adalah strategi untuk mengenalkan Wonosobo lebih mudah di dunia internasional,” imbuhnya.

One Andang meminta semua pihak, tidak hanya pemerintah tapi juga dunia usaha dan elemen masyarakat lainnya ikut untuk serius menggarap branding Wonosobo the Soul of Java. Branding sangat penting guna mengenalkan dunia pariwista dan kuliner khas yang ada di Wonosobo.

Ditambahkan Ike Jenita,  banyak brand yang diciptakan tanpa mendapat dukungan pemasaran yang cukup. Proses branding juga sering sekadar dimaknai sebagai penciptaan logo dan slogan. Branding yang dikembangkan tidak secara  konsisten dipasarkan dan didukung program yang menguatkan branding tersebut.

Karena itu, pihaknya mengukapkan kunci sukses sebuah city branding terletak pada rencana besar harus dimulai dengan tindakan nyata (think big, start mall). Roadmap biasanya berjalan hingga lima  Ada komitmen nyata dari steakholder yang ada dan perlu adanya agen og change (agen perubahan).

Sementara itu, Asisten Ekbang Setda Sumaedi berharap setelah mengikuti sosialisasi branding Wonosobo the Soul of Java semua elemen masyarakat, dunia usaha, pelaku pariwisata dan pemerintah lebih giat lagi dalam memperkuat citra tersebut sehingga dunia pariwisata di Wonosobo cepat berkembang.

SuaraBaru.id/Muharno Zarka

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here