Bagikan
RATA TANAH : Bangunan pujaserara bertingkat di kompleks kuliner sate Koplakan, Kota Blora, sedang dihancurkan dan kini rata tanah. Foto : Wahono/

BLORA — Setelah gedung bersejarah Sasana Bhakti rata tanah, kini bangunan pujasera (bertingkat) di kompleks kuliner sate selatan alun-alun, Kota Blora, juga dirobohkan.

Bangunan yang pernah untuk gedung bioskop dan cafe karaoke tersebut, Selasa (30/4), sudah dalam kondisi roboh total rata tanah, tersisa gunungan bekas material bangunan dan kerangka besi beton berserakan.

Pantauan di lokasi pujasera yang populer bernamam koplakan tersebut, terdapat alat berat backhoe excapator, dan beberapa tenaga kerja yang bertugas melakukan pembersihan.

Selain bangunan pujasera yang dirobohkan, bangunan eks Swalayan Gajah Mas juga rata tanah lebih dulu, termasuk bangunan yang sebelumnya untuk kuliner sate, dan jajanan khas Blora.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Dindagkop UKM), H Maskur, menjelaskan pembongkaran dilakukan untuk dibangun sarana pujasera yang lebih modern.

“Setelah dibongkar, langsung dibangun kompleks pujasera baru,” jelasnya.

Nanti, lanjutnya, pusat jajan serba ada (pujasera) jadi lebih modern, bangunannya sama dengan pujasera baru utara Sunan Pojok, terdiri 18 tempat usaha untuk para penghuni lama.


PEMBONGKARAN : Tahap awal pembokaran gedung pujaserara di kompleks koplakan pusat sate Blora. Foto : Wahono/

Lebih Luas

Menurutnya, untuk membangun pujasera baru dialokasikan dana Rp 3 miliar lebih, konsep penataannya akan tampak lebih luas dengan area parkir menampung tiga kali lipat kendaraan roda dua dan empat.

“Dengan pujasera baru, akan meningkatkan ekonomi warga, dan mempercantik wajah kota,” kata Kepala BPKAD, H. Maskur.

Diberitakan sebelumnya, Februari 2019 gedung Sasana Bhakti yang berlokasi di pojok utara alun-alun kota sate, sengaja dirobohkan karena kondisinya sudah tidak layak dan membahayakan.

Gedung yang dibangun pada 1950-an tersebut, rencananya bakal dibangun baru untuk ruang pamer (show room) hasil kerajinan produk unggulan Blora, dan cineplex (bioskop kembar).

Menurutnya, tokoh masyarakat Blora RM Yudhi Sancoyo, gedung bersejarah itu dibangun pasca Pemilu 1955, dinamai Gedung Rakyat. Pada 1968 berubah nama menjadi Gedung Rajawali, dan berubah lagi bernama Gedung Tri Daya.

Pada 1986-1987 atau era Bupati H. Soemarno (alm), gedung itu direnovasi dan diganti nama menjadi Sasana Bhakti hingga saat ini, urai mantan Bupati Blora Yudhi Sancoyo.

Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga Pariwisata dan Kebudayaan (Dinporabudpar) setempat, H. Slamet Pemuji, membenarkan gedung di pojok utara alun-alun akan didirikan banguna baru.

Menurutnya, selain sudah tidak layak dan membahayakan bila dimanfaatkan untuk kegiatan, akan dibangun ruang pamer (show room) kerajinan produk unggulan Blora, dan cineplex.

“Rencana dibangun pada 2020, misal ada investor bisa dimulai sekarang,” kata Slamet Pemuji.

(suarabaru.id/Wahono).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here