Bagikan
Pengunjung tengah menikmati menu khas yang disajikan di Warung Makan "Sego Jangan" Wonosobo. Foto : SuaraBaru.id/Muharno Zarka

WONOSOBO-Selera makan orang kadang berbeda-beda. Ada yang suka makan di warung, ada pula yang senang makan di rumah. Ada juga orang yang demen makan di warung tapi dengan menu olahan laksana di rumah sendiri.

Itulah perpaduan yang coba ditawarkan Warung Makan “Sego Jangan” Wonosobo. Di warung sederhana inilah menu ala rumahan disajikan. Suasana yang ada pun tidak seperti warung makan kebanyakan. Pasalnya, warung yang letaknya nylempit di Kampung Longkrang ini, cuma berada di teras rumah pemiliknya. Ukurannya pun tidak terlalu luas, hanya sekitar 6 x 6 meter persegi.

Di warung mini ini, hanya ada satu meja kuna yang terbuat dari kayu jati, dua resban panjang, dua meja kecil dan beberapa dingklik kayu. Jika pas pengunjung banyak, suasana usel-uselan pun tidak bisa dihindarkan.

Sebelum pengunjung lama beranjak, pengunjung baru harus rela berdiri di pelataran rumah untuk menunggu diladeni. Sayangnya, kadang pengujung lama tak mau segera angkat kaki, karena masih asyik ngobrol dengan memilik warung.

Mas Irul, pemilik Warung Makan “Sego Jangan”, yang berpenampilan nyentrik karena berambut gondrong, memang acap menemani pengunjung makan sembari ngobrol ngalor-ngidul. Pengunjung pun serasa seperti keluarga sendiri.

“Saya memang sengaja membuka kedai makan bukan warungan tapi rumahan. Biar yang menikmati menu di sini seperti makan di rumah sendiri. Pengunjung bebas mengambil menu sendiri dan bisa ngobrol setelah makan”, katanya, Minggu (21/4).

Kalo model warung makan biasa, ucap Mas Irul, sudah banyak yang menyajikan. Pengunjung begitu lapar langsung makan, selesai bayar terus keluar, kalo sudah kenyang lalu pulang tanpa ada obrolan dengan pemiliknya.

Di warung unik ini, pengunjung bisa ngobrol dulu sebelum makan atau setelah makan bisa dongengan sepuasnya. Kadang, sebut ayah dua putra itu, pengunjung lebih lama ngobrolnya dari waktu makannya.

Menu Rumahan

Tak jauh beda dengan menu yang disajikan. Semua beraroma rasa olahan rumah. Menu utama berupa jangan tahu kobis, jangan lombok ijo, jangan rese bethik, tempe kemul, dan srundeng. Ada juga tempe dan tahu baceman, daging kisi sapi, gandu atau koyoran, jeroan dan lencak, sayur telur goreng, oseng-oseng jipang dan aneka masakan ala rumah dan ndesa lainnya.

Semua masakan diolah dengan cara tradisional dengan bumbu rempah-rempah tanpa mengunakan bumbu instan. Karena itu, taste masakanya terasa lain, gurih berpadu pedas dan manis.

Menu utama sayur kubis dan tahu dipadu dengan lauk tempe kemul. Foto : SuaraBaru.id/Muharno Zarka

Selain menu makan, tersedia pula menu wedangan berupa ketan goreng, ketan basah, wajik, peyek, aneka kerupuk, jadah dan roti puthu. Penganan tradisional itu disajikan sebagai hidangan pelengkap sebelum atau sesudah makan.

Semua menu yang dibuat merupakan olahan turunan dari eyangnya. Karena Mas Irul dan istrinya Mbak Sofi, merupakan generasi ketiga dari Warung Makan Mbah Sobary Kauman Wonosobo. Warung Makan Mbah Sobary temasuk warung yang cukup legendaris di Wonosobo kala itu. Warung dengan olahan kuna dan di-setting ala rumahan itu, kerap menjadi jugugan pejabat di Wonosobo untuk sarapan pagi.

Setelah Mbah Sobary tiada, warung makan diteruskan Bu Wahyuni yang merupakan orang tua dari Mas Irul. Namun saat dikelola Bu Wahyuni Warung Makan Mbah Sobari sempat terhenti hampir sepuluh tahun.

Kini, tempat yang dulu menjadi jagongan pelangan telah berubah menjadi warung ayam goreng. Guna meneruskan jejak Warung Makan Mbah Sobary yang melegenda itu, Mas Irul menghidupkan ruh warung rumahan di tempat yang baru seperti saat ini.

Harga menu yang ditawarkan pun cukup murah. Sepiring nasi sego jangan dengan lauk tempe kemul dan teh manis, hanya dibandrol Rp 10.000. Kalau dengan lauk koyoran atau daging kisi paling hanya Rp 20.000 sampai Rp 30.000.

Sebagai warung pewaris Warung Makan Mbah Sobari, kini gerai makan yang dikelola Mas Irul, masih punya pelanggan fanatik, yakni warga keturunan Tionghoa, kalangan PNS, santri dan pelaku seni serta budayawan di Wonosobo.

Pelanggan fanatik itulah yang dulu meramaikan Warung Makan Sego Jangan Mbah Sobari. “Meski sudah berpindah tangan, soal rasa, penyajian dan tempat yang ada masih seperti dulu ketika warung masih dikelola Mbah Sobary,” lontar Ahmad Baehaki, salah satu pelanggan setianya.

SuaraBaru.id/Muharno Zarka

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here