Bagikan
Naik VW Safari seperti kembali ke tahun 70-an, dan inilah paket yang ditawarkan oleh komunitas VW di Borobudur. Tinggal pilih yang short, medium, atau fullday. Foto: Wied/Ist

BOROBUDUR – Bagi yang tahun 70-an masih remaja atau setidaknya pemuda, tentu tahu mobil dinas apa yang digunakan oleh para camat. Ya, mobil VW Safari berplat merah dengan warna oranye. Itu sudah lebih 40 tahun lalu, dan banyak kendaraan ini yang sudah jadi bangkai. Tetapi di Borobudur, ada sekitar 90-an mobil VW Safari. Tentu bukan buat operasional camat, tetapi kini digunakan untuk mengantar wisatawan menikmati keindahan Borobudur dan desa-desa di sekitarnya serta Kabupaten Magelang pada umumnya.

Ya, Borobudur saat ini sudah mirip suasananya dengan Bali. Nuansa pariwisatanya sudah begitu tajam, terlebih dengan tumbuhnya desa-desa wisata seperti Candirejo dan Wanurejo yang sudah sangat memikat wisatawan. Kemudian BUMN juga turun dengan membantu membangun Balai Perekonomian Desa atau Balkondes di seluruh desa yang ada di Kecamatan Borobudur. Sebuah infrastruktur pendukung pariwisata, khususnya di bidang akomodasi dan amenitas yang dilengkapi dengan souvenir shop, workshop kerajinan, dll.

Sementara jalan-jalan antardesa di Borobudur juga sudah sangat mulus, sehingga aksesibilitas bagi wisatawan menjadi semakin mudah. Untuk memenuhi kebutuhan pariwisata, atraksi di sana juga tak kurang. Di Desa Bahasa, kita bisa belajar bahasa Inggris dengan paket-paket yang ditetapkan, dan semuanya serba fun. Belajar bahasa dengan cara yang menyenangkan.

Di Desa Bahasa, kita juga bisa bermain angklung seperti halnya di Saung Ujo, Bandung. Pengunjung masing-masing memegang angklung dengan otasi yang berbeda, kemudian dipimpin seseorang untuk memainkan angklung tersebut, dan menyanyikan beberapa lagu. Ada juga tantangan, bagi pengunjung yang berani memimpin main angklung akan mendapatkan sebuah tutup kepala (iket) khas Desa Bahasa.

Oh, bukan itu saja masih banyak yang lain. Mau keliling desa naik dokar, oke. Mau naik sepeda tua muter-muter tersedia, naik gajah juga bisa. Yang juga menarik adalah keberadaan mobil VW Safari yang menawarkan paket VW Tour. Ada komunitas VW Safari di Borobudur, yang sama-sama melayani wisatawan untuk menikmati keindahan di kawasan lereng Bukit Menoreh itu.

One Day Tour

Dalam peringatan 35 tahun pindahnya ibukota Kabupaten Magelang dari Magelang ke Sawitan, yang kini disebut Kota Mungkid berbarengan dengan peringatan Hari Pers Nasional tingkat Jateng yang dipusatkan di Kota Mungkid, Pemkab Magelang memberikan insentif kepada jajaran PWI Jateng untuk menikmati wisata sehari (one day tour) dengan naik VW Safari.

Disediakan 21 mobil VW Safari untuk para peserta tour. Maka, suasana pagi di depan Tourism Information Center (TIC) Mendut berjajar mobil VW Safari. Setelah dilakukan seremoni singkat, maka mulailah petualangan dengan mobil buatan Jerman dan Meksiko ini.

Tujuan awal adalah Candi Pawon, yang hanya beberapa puluh meter dari lokasi start. Penumpang diajak menikmati candi kemudian pengolahan kopi luwak di depan candi Mendut. “Kopi kami berasal dari daerah lereng Dieng Wonosobo. Buah kopi itu dimakan luwak, kemudian kopi yang keluar bersama kotoran luwak itu dikirim kepada kami. Meski ada juga luwak yang kami pelihara, tetapi bukan untuk memproses kopi ini,” kata mbak Cantik di situ.

Jangan kaget, harga kopinya per kemasan 250 gram untuk robusta Rp 250.000 dan arabika Rp 400.000. Jadi harga kopinya antara Rp 1.000.000 sampai Rp 1,6 juta. “Satu kemasan 250 gram ini bisa diseduh untuk 20 cangkir kecil kopi,” katanya.

Dari Candi Pawon, rombongan dibawa ke Candi Mendut. Di candi yang biasa digunakan untuk mengawali upacara Waisyak ini,rombongan mendapatkan penjelasan dari pemandu tentang keberadaan candi dan sejarah Sang Sidharta Budha Gautama. Di dalam Candi Mendut terdapat tiga patung Budha yaitu Dyani Buddha Cakyamuni atau Vairocana, Buddha Avalokitesvara atau Lokesvara, dan Arca Bodhisatva Vajrapani.

Selain menikmati keagungan Candi Mendu, rombongan juga bisa membeli suvenir khas seperti arca-arca mungil, T-shirt, blangkon, dan sebagainya.

Acara memetik buah stroberi langsung di kebun adalah rangkaian atraksi VW tour di Banyuroto, Sawangan dekat objek wisata  Ketep Pass. Foto: wied/ist

Petik Stroberi

Program berikutnya berdasarkan itinerary panitia adalah melakukan petik buah stroberi di Desa Banyuroto, Ketep. Jalan menuju Banyuroto yang berdekatan dengan tempat wisata Ketep Pass ini memang terus menanjak. Tetapi mobil yang sudah berumur 40-an tahun ini tetap saja ngethek penuh percaya diri memanjat.

Sesampai di kebun stroberi Inggit, rombongan pun menikmati wisata petik buah. “Sayang akibat hujan es beberapa waktu lalu, banyak buah yang rusak dan busuk. Tetapi masih ada yang bisa dinikmati, silakan petik,” kata Suyanto, Kades Banyuroto yang menambut rombongan.

Setelah puas petik buah berselfi ria, kemudian menimbang hasil petik, dan melanjutkan perjalanan ke Ketep Pass untuk menikmati keindahan pemandangan 360 derajat Gunung Merapi, Merbabu, Sindoro, Sumbing, dan Menoreh. “Sayang Merapi berkabut sehingga keindahannya tidak sempurna bisa kita saksikan,” kata Waty, seorang pengunjung.

Rombongan kemudian masuk ke taman menikmati kesejukan udara, dan sebagin yang lain minum kopi atau menikmati jagung bakar dan kudapan lainnya di warung-warung yang tersedia di kompleks Ketep Pass. Setelah makan siang di resto Ketep, rombongan diajak menonton film tentang Erupsi Merapi. Sebuah kisah dokumenter bencana Merapi, khususnya tahun 2010. Selama kurang setengah jam film usai, dan rombongan kembali ke penginapan di Balkondes Ngaran.

Ateng, driver VW yang membawa kami menuturkan, komunitas VW ini terbentuk baru sekitar tiga tahunan lalu. Setidaknya ada tiga komunitas di Borobudur, yang kesemuanya melayani wisata. “Termasuk ada yang dikelola PT Taman Wisata,” kata Ateng.

Menurutnya, keberadaan Borobudur saat ini sudah bisa memberi manfaat bagi warga. “Saya warga Ngaran, di belakang Candi Borobudur. Dengan adanya VW Tour ini setidaknya ada penghasilan yang didapat, dan selalu saja ada wisatawan yang menggunakan,” katanya.

Ditanya tentang harga sewa, dia menyebut, untuk short sekitar dua jam Rp 350.000, medium durasi empat jam Rp 450.000 dan untuk satu hari Rp 550.000. “Kami bisa antar seuai paket, dan tujuan berdasarkan keinginan wisatawan. Dari desa-desa di Borobudur, bahkan bisa sampai Ketep seperti saat ini,” ujarnya.

Dalam perjalanan dari Ketep, hujan turun sangat deras. Dan belum reda pula sampai rombongan di Balkondes Ngaran untuk beristirahat. Sebuah petualangan baru saja usai, naik mobil camat tahun 70-an di Kabupaten Magelang.

 

Suarabaru.id/Widiyartono R.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here