Bagikan
DEMO ROOM : Salah satu demo room di rumah perajin kerupuk sermier warga Desa Wantilgung, Kecamatan Ngawen, Blora. Foto : Agung Wibowo

BLORA – Desa Wantilgung, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, dikenal sebagai sentra pembuatan kerupuk sermier. Pemerintah Desa juga terus mendorong perajin kerupuk sermier bisa meningkatkan produk unggulanya.

Kepala Desa Wantilgung, Yuntarno, mengemukakan industri rumahan kerupuk sermier itu sudah berlangsung turun temurun, dan dikerjakan secara manual.

“Sermier ini berbahan ketela pohon. Rasanya gurih dan sudah cukup terkenal di berbagai wilayah,” bebernya Senin (25/3).

Hanya saja, lanjtunya, cara membuantya masih dikerjakan secara tradisional dan manual, nemun dmeikian telah ini menjadi ikon desa Wantilgung.

Sampai saat ini, lebih kurang 70 perempuan di desa Wantilgung masih bertahan membuat kerupuk sermier, tambahnya.

“Sebagai sambilan, dan menambah penghasilan keluarga. Pembuat semier memang butuh perhatian serius, dan terus kmai dorong,” kata Yuntarno.

Pihaknya berharap, segera mendapat pelatihan agar kerupuk sermier bisa menjadi ikon yang lebih dikenal di wilayah desanya, dan menasional.

“Kami berharap, ada lembaga terkait bisasegera memberi pelatihan,” harapnya.

Ketela Mahal

Pelatihan dimaksud, seperti kemasan, pemasaran, dan kesehatan yang menyangkut kebersihan atyau uji makanan, sehingga bisa lebih menguntungkan para perajin.

Salah seorang pembuat kerupuk sermier, Darni (37), mengatakan sampai saat ini tidak mengalami kesulitan bahan baku ketela pohon, hanya saja harganya dinilai mahal.

“Harga ketela pohon satu karung Rp150.000. Itu kalau dikupas, kemudian digiling bisa menghasilkan 1.500 lempengan kerupuk,” ujarnya.

Menurutnya, pembuatan sermier melalui beberapa proses, di antaranya setelah ketela dikupas kemudian digiling, selanjutnya dibuat adonan dicampur bumbu seperti bawang, ketumbar, garam dan daun seledri.

Setelah itu, dipotong-potong berbentuk bulat, kemudian digilas satu per satu hingga tipis.

“Gilasnya satu per satu dengan botol, kemudian dijemur agar kering,” jelas Darni.

Dijelaskan juga, proses penjemurannya dengan sinar matahari, jadi kalau tidak ada panas matahari perajin libur, tidak membuat kerupuk sermier.

Selanjtunya setelah kering, kerupuk sermier mentah digoreng dalam wajan di atas tungku menggunakan bahan bakar kayu.

“Kerupuk yang sudah digoreng, kemudian dikumpulkan dan dibungkus dengan plastik,” kata Darni.

Hanya yang membuat semangat para perajin, setiap hari sudah ada pembeli yang akan menjual keliling, sudah punya langganan yang kebanyakan dari luar desa.

Lamijan (51), salah seorang warga Wantilgung mengatakan, cita rasa kerupuk sermier sangat khas dan gurih. Dia dan istrinya sering menerima pesanan baik mentah maupun yang sudah digoreng.

“Kalau mendekati bulan puasa atau menjelang lebaran, saya sering menerima pesanan dari luar daerah Blora,” katanya.

Menurutnya, pemasaran melalui media sosial cukup efektif, namun langkah innovatif perlu dilakukan dengan serius, tapi tidak meninggalkan yang tradisional (suarabaru.id/Agung/Wahono)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here