Bagikan
Adi Maradona saat presentasi hasil karyanya dihadapan Dewan Juri Krenova 2019 di Kantor Balitbang Kota Magelang, (Suarabaru.id/dh)

 

MAGELANG- Kompetisi kreativitas dan inovasi (Krenov) yang diselenggarakan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kota Magelang sejak tahun 2004 hingga 2019 telah menghasilkan 432 lebih karya inovasi.

Kepala Balitbang Kota Magelang Arif Barata Sakti menerangkan, pada penjaringan Krenova 2019 ternyata lebih banyak temuan kategori rekayasa teknologi dan manufaktur, agribisnis dan pangan serta kerajinan dan industri rumah tangga.

‘’Tiga kategori ini yang menonjol. Padahal kami menyediakan sembilan kategori. Antara lain energi, kehutanan dan lingkungan hidup. Sedang kategori lainnya seperti pendidikan, kelautan dan perikanan serta sosial tidak ada peminatnya,’’ tutur Arif, Kamis (21/3).

Perinciannya Kategori rekayasa teknologi dan manufaktur sebanyak 7 karya, kerajinan dan industri rumah tangga 7 karya, agribisnis dan pangan 7 karya kehutanan dan lingkungan hidup 6 karya  dan kesehatan 2 karya.

Salah satu karya yang menarik adalah pemanfaatkan sampah daun cemara dibuat vas bunga dan tempat tisu.  Penemunya adalah Adi Maradona (36) warga Ngentak RT 03 RW 10 Kelurahan Gelangan, Kota Magelang.

Pada Krenova 2018 ayah dua anak dengan pendidikan terakhir lulusan SMP membuat replika miniatur senjata SS1 Pindad, menggunakan bahan dari barang bekas. Dia memberi nama produknya, ‘Military of the Gawean Dewe’.

Adi memanfaatkanbarang-barang bekas yang tidak terpakai menjadi sebuah barang bernilai tinggi yang kemudian dijual dengan harga mahal. Karya lainnya adalah miniatur pesawat, helikopter, tank, mobil jeep, truk rudal, kapal perang  dan miniatur drone.

 

 

 

 

Vas bunga dan tempat tisu yang dibuat dari pralon dan sampah daun cemara, (Suarabaru.id/dok)

Untuk membuat vas bunga dan tempat tisu, dia memanfaatkan sampah daun cemara di sekitar tempat tinggalnya di Kampung Ngentak, Kelurahan Magelang, Kota Magelang.

Bahan yang digunakan pipa pralon, lem, pernis dan bahan pendukung lainnya. Untuk tempat tisu membutuhkan pralon yang garis tengahnya lebar supaya satu bungkus tisu ukuran normal bisa masuk. Untuk vas bunga tingginya disesuaikan dengan tangkai bunga. Selain itu, dia juga membuat tempat pensil.

Cara pembuatannya  tidak sulit. Daun cemara ditempelkan melingkar di pralon menggunakan lem. Setelah semuanya menempel menutupi pralon, selanjutnya dipernis  supaya mengkilat. Juga diberi hiasan supaya lebih menarik menggunakan sampah cemara.

Setelah jadi harga jualnya cukup mahal. Untuk tempat tisu dijual dengan harga minimal Rp 150 ribu. Harga yang hampir sama untuk vas bunga dan tempat pensil.

Bahan bakunya sampah cemara mudah dicari, dan sehari dia bisa membuat minimal dua buah.  ‘’Hasilnya lumayan menambah ekonomi keluarga,’’ tutur Adi yang setiap hari juga bekerja di bidang lain. (Suarabaru.id/dh)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here