Bagikan
Salah satu petani salah pondoh asal Dusun Kaliduren Desa Durensawit Kecamatan Leksono baru saja memanen buah salak pondoh dari kebun miliknya, Kamis (14/3), pagi. Foto : SuaraBaru.id/Muharno Zarka

WONOSOBO-Pada akhir tahun 2018 lalu petani salak pondoh di Wonosobo mengalami panen raya. Tiap panen raya, produksi salak pondoh di kalangan petani mengalami kenaikan dan persedian buah salak melimpah di pasaran.

Setiap persediaan melimpah, sesuai hukum pasar, harga salak pondoh di pasaran pasti terjun bebas alias anjlok. Meski jumlah penghasilan buah salak pondoh di kalangan petani naik tapi harga di pasar mengalami penurunan.

Hal itu dikatakan Subhan Yusuf SAg, petani salak pondoh asal Dusun Kaliduren Desa Durensawit Kecamatan Leksono Kabupaten Wonosobo, ketika ditemui SuaraBaru.id, Kamis (14/3) pagi. Kini setelah panen raya, harga salak pondoh mulai merangkak naik.

Menurut Subhan, yang juga alumnus Fakultas Ushuludin Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo Semarang, harga salak pondoh di tingkat petani hanya berkisar antara Rp 1.000 hingga Rp 2.000. Sedang harga di pasaran mencapai Rp 2.000 hingga Rp 3.000 per kilogram.

Kini di tingkat petani salak pondoh super sudah menembus harga Rp 4.000. Sedang salak kelas biasa Rp 3.500. Di kalangan pedagang buah, salah pondoh dijual antara Rp 5.000 sampai 7.000/kg. Salak pondoh asal Wonosobo terasa lebih manis dan berdaging tebal.

“Panen raya biasanya jatuh pada bulan November-Desember setiap tahunnya. Produksi buah salak pondoh di semua petani yang ada di Wonosobo pasti mengalami kenaikan. Karena produksi melimpah pasar buah akan dibanjiri buah salak pondoh”, katanya.

Di Wonosobo sendiri, sebut mantan Kepala Desa (Kades) Durensawit Leksono itu, buah salak pondoh masih menjadi primadona bagi petani di desa. Karena selain perawatan yang mudah, biaya pemeliharaan tanaman ini relatif mudah dan tahan dari serangan hama.

Beberapa wilayah seperti kawasan agropolitan Rojonoto (Kaliwiro, Sukoharjo, Leksono dan Selomerto), petani banyak membudidayakan tanaman ini. Bahkan wilayah Watumalang, Wonosobo, Wadaslintang, Kepil dan Sapuran juga sudah banyak yang ikut menanam salak pondoh.

Kreasi Buah

Petani salak pondoh lain asal Dusun Ngepoh Desa Manggis Kecematan Leksono Purwanto mengatakan untuk mensiasati harga salah pondoh saat panen raya mengalami penurunan, petani sudah mulai melakukan kreasi mengolah buah salah pondoh menjadi kripik maupun manisan.

“Jika buah salah pondoh pascapanen diolah menjadi cemilan kripik atau minuman manisan, harga bisa naik dua kali lipat. Hanya saja butuh ketrampilan khusus dan kreativitas dari petani untuk mengolah buah salah dan tidak sekadar dijual dalam bentuk buah,” katanya.

Saat ini, menurut petani yang pernah bekerja di sebuah pabrik di Jakarta itu, keripik dan manisan salak pondoh, banyak dijual di sentra toko oleh-oleh di Wonosobo dan sekitarnya. Selain itu, makanan khas tersebut juga banyak dijajakan di tempat-tempat wisata.

Tak hanya itu, sebutnya, Eko Yulianto warga Dusun Bowongso Desa Limbangan Kecamatan watumalang, malah sudah mengkreasi biji salak pondoh (geol), diolah menjadi minuman serbuk kopi salak pondoh yang cukup laris manis di pasaran.

“Tidak seperti kopi asli yang berwarna hitam pekat, kopi salah pondoh berwarna kecoklatan dan ada aroma rasa kecut ketika serbuk salah pondoh itu diminum konsumen. Ini merupakan langkah kreatif yang dilakukan petani dan pemuda setempat”, katanya.

Kepala Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan (Dipaperkan) kabupaten Wonosobo Ir H Abdul Munir MSi mengapreasi kreatifitas petani salak pondoh di Wonosobo yang tidak sekadar menjual dalam buah segar tapi sudah memodifikasi menjadi keripik, manisan bahkan geol diolah menjadi serbuk menyerupai kopi.

“Saat panen raya memang harga salak pondoh cenderung turun meski panen melimpah. Karena itu, guna terus menjaga harga tetap stabil, petani harus berani mengambil terobosan dengan penerapan tehnologi pangan paska panen sehingga petani tetap untung”, katanya.

SuaraBaru.id/emhaka

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here