Bagikan
PERLAHAN : Anggota Polsek Cepu turun memantau kondisi sungai Bengawan Solo di perbatasan Jateng-Jatim yang terus menurun perlahan. Foto : Wahono/

BLORA – Warga Blora sempat dibuat waswas, khawatir air bakal meluber ke pemukiman, merendam rumah dan lahan pertanian, Kamis (7/3) petang, merasa tenang setelah permukaan air Bengawan Solo mulai stagnant.

Air sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo perbatasan Jateng-Jatim di Cepu, pantauan suarabaru.id, Kamis (7/3) petang, pemukaan air cenderung menurun perlahan.

Sebelumnya, warga di Kecamatan Cepu, Kedungtuban, Kradenan (Blora) Jateng, Padangan dan Batokan (Bojonegoro) Jatim, ketar-ketir dengan meningginya permukaan air sungai terpanjang di Pulau Jawa tersebut.

“Banyak yang sempat waswas, namun Kamis sore permukaan air Bengawaan Solo mulai surut perlahan,” kata M. Fadli (29), warga Cepu.

Warga memang sempat khawatir air Bengawan Solo meluber, karena Kecamatan  Kradenan, Kedungtuban, Cepu, Kabupaten Blora, adalah wilayah rawan bencana alam banjir, seperti hari ini melanda puluhan desa di Bojongoro, Jatim.

Melihat kondisi tersebut, Kapolres Blora AKBP Antonius Anang melalui Kapolsek Cepu AKP Slamet Riyanto, memerintahkan anggotanya aktif memantu kondisi debit air Bengawan Solo.

Aman

Penduduk yang rumahnya di daerah rawan banjir Bengawaan, antara lain Desa Menden dan Ketuwan, termasuk warga di beberapa desa Kecamatan Kedungtuban, dan Cepu.

Sudarno (42) dan tetangganya di Kelurahan Balun, Cepu, saat ini mengaku makin tenang, setelah melihat ketinggian air Bengawan Solo aman.

Meski aman dan pemrukaan air surut perlahan, pemerintah Kabupaten Blora melalui Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD setempat, Sunanta, menghimbau agar warga di DAS Bengawan Solo tetap waspada.

“Saat ini Bengawan Solo dalam kondisi aman, tapi kami imbau warga sepanjang DAS tetap waspada,” kata Kalakhar Badan Penanggulangan Bencanan Daerah (BPBD) Blora.

Di Cepu perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur,  tambahnya, air Bengawan Solo masih agak tinggi, air masih keruh, banyak sampah terbawa air, namun kondisinya aman.

Sunanta menambahkan, sebelum dibangun tanggul pengaman, setiap musim hujan sering membawa bencana besar, ribuan rumah warga di perbatasan Jateng-Jatim terendam air. (suarabaru.id/Wahono)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here