Bagikan
PANEN : Petani Blora selatan, antara lain Kecamatan Randublatung, Jati, dan Kradenan saat ini sedang memanen jagung yang harganya terus jeblog. Foto : Ist

BLORA – Petani Blora mengeluhkan turunnya harga jagung yang dipanennya. Tidak tanggung-tanggung, penurunan itu terjadi setiap hari, dari sebelumnya Rp 3.750 perkilogram, kini jeblok tinggal Rp 2.500 perkilogram.

Menurut Suratmin (44) petani di Randublatung, Blora, Senin (18/2), jemblognya harga jagung terjadi sejak awal Februari 2019, harga terus menurun hampir setiap hari.

Suyanto (39), petani pesanggem di lahan hutan Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Randublatung, juga mengaku pusing dengan harga jagung yang terus menurun.

Sebelumnya, jagung laku Rp 3.750 perkilogram, Rabu (6/2) turun lagi menjadi Rp 3.600, disusul Jumat (8/2) anjlog lagi Rp 3.450, dan Minggu (11/2) Rp 3.150.

Selang tiga hari atau Kamis (14/2), harga jagung turun tidak terkendali dari Rp 2.850 perkilogram, Jumat (15/2) menjadi Rp 2.700, dan harga terjun bebas pada Minggu (17/2) hanya Rp 2.500 perkilogram.

“Kasihan petani,  idealnya harga jagung sekitar Rp 3.000 perkilogramnya,” kata Singgih Hartono, aktivis pemerhati pertanian di Blora.

Cuaca

Menurutnya, jagung di Blora seperti tidak dihargai, sebab jagung dengan kadar air 30-an persen, hanya laku Rp 2.500 perkilogram.

Jika melihat cuaca yang kurang bersahabat, sering turun hujan, dan masa panen jagung yang makin dekat, bisa jadi harga akan terus jeblog.

“Harusnya Pemkab segera turun, dan menolong nasib petani jagung,” tambah Singgih Hartono.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Hj. Reni Miharti, pihaknya sudah turun lapangan untuk mengeceknya, dan membenarkan harga jagung terus turun.

Dalam pengecekannya, Reni mendapati harga jagung dengan kadar air rata-rata 30-an persen hanya laku sekitar Rp 2.500 di tingkat petani, dari harga ideal Rp 3.250

Menurutnya, harga jagung memang cenderung menurun seiring waktu panen curah hujan tinggi, dan panenan jagung jumlahnya besar.

“Sedang membangun kemitraan kelompok tani dengan pabrik pakan ternak, agar pabrik eli jagung ke petani,” kata Reni Miharti. (suarabaru.id/Wahono).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here