Bagikan
PIPIL : Dirjen PKH I Ketut Diarmita (baju putih) didampingi Bupati Blora H. Djoko Nughoro (dua dari kiri), menunjukkan jagung pipil yang dikeringkan dari mobil corn dryer. Foto : Ist/Reno

BLORA – Perum Perhutani merealisasi komitmennya menyediakan lahan pertanian untuk petani desa hutan. Salah satu lokasi ada di petak 93 RPH Kalisari, BKHP Kalisari, Desa Jatiklampok, Kecamatan Banjarejo, Blora.

Meski berbukit-bukit, lahan hutan jati Resor Polisi Hutan (RPH) Kalisari, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Kalisari, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Blora, tanaman jagung tumbuh subur di kawasan itu.

Melihat keberhasilkan tersebut, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita, Selasa (19/2), mengaku bangga.

Di petak 93, didampingi Bupati Bupati Blora H. Djoko Nugroho, Dirjen PKH hadir  untuk melaksanakan prosesi panen raya jagung di kabupaten penghasil kayu jati.

“Saya berada disini, karena ditugaskan langsung oleh Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman,” jelas Diarmita.

Khusus kehadirannya di Blora, adalah untuk mengawal dan menjembatani  kerjasama pemanfaatan jagung petani oleh peternak ayam, melalui peran Bulog.

Menurutnya, petani yang harus dibina ada dua, yaitu para petani jagung itu sendiri dan peternak ayam.

KESEPAKATAN : Tanda tangan kesepakatan kerja petani dengan pabrik pakan ternak disaksikan Dirjen PKH I Ketut Diarmita, dan Bupati Blora H. Djoko Nughoro (dua dari kiri). Foto : Ist/Reno

Berpengaruh

Sedangkan pemerintah, memposisikan diri berada di tengah-tengah mereka, dan tentu harus mengayomi keduanya, tandas I Ketut Diarmita.

Dirjen PKH menjelaskan, bahwa dalam pakan unggas, jagung merupakan komponen penting, karena berkontribusi sekitar 40-50 persen dalam formulasi pakan.

“Dalam hal ini, ketersediaan jagung sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan usaha peternakan,” tambahnya.

Berdasarkan data prognosa jagung tahun 2018 dari Badan Ketahanan Pangan, total penggunaan jagung di Indonesia 15,58 juta ton (66,1 persen atau 10,3 juta ton) untuk kebutuhan industri pakan dan peternak ayam petelur (layer) mandiri.

Jika produksi pakan (2018) sekitar 19,4 juta ton, maka setidaknya dibutuhkan jagung 7,8 juta ton, untuk industri pakan ditambah 2,5 juta ton untuk peternak mandiri.

Pada 2019 ini, katanya, industri pakan memerlukan 8,59 juta ton, dan peternak mandiri 2,9 juta ton.

Jika terealisasi, lanjutnya, nantinya dapat menjadi pendorong bagi berkembangnya agribisnis jagung di Indonesia, meningkatan produksi dan kesejahteraan petani sekaligus motor penggerak pembangunan di pedesaan.

Pada kesempatan tersebut, Dirjen PKH I Ketut Diarmita juga mempertemukan langsung peternak ayam mandiri Solo, dengan petani jagung Blora.

“Bulog berada di tengah petani-peternak, perannya mengatur penyerapan jagung serta pasokan dari Blora ke Solo,” paparnya.

Dijelaskan, harga jagung berpedoman pada Permendag Nomor  96 Tahun 2018 tentang harga acuan pembelian di tingkat petani dan harga acuan penjualan di tingkat konsumen.

Dalam Permendag, harga pembelian jagung di tingkat petani kadar air 15% Rp. 3.150/kg, dan harga acuan penjualan di industri pengguna (sebagai pakan ternak) Rp 4.000/kg. (suarabaru.id/Wahono).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here