Bagikan

Amir Machmud NS, S.H., M.H., Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah sejatinya memang juga seorang sastrawan dan penyair. Maka wajar bila tulisan-tulisannya dalam bentuk kolom atau esai, bahasa yang digunakan juga terasa nyastra, meskipun dengan topic olahraga (khususnya bola) dan bahkan tulisan-tulisan masalah politik.
Kali ini, diturunkan puisi karya Amir Machmud NS bertema wartawan.
Inilah puisi-puisi itu:

 

 

 

 

 

Amir Machmud NS
SAJAK WARTAWAN (1)
kau bawa ke mana naskah itu
untuk kautiup dan kautebar
kepada siapa kau berkabar
mensyiar atau menguar
menerang atau merembang
di tengah kepung kepentingan
yang saling bersandar punggung
dengan arah berseberangan

kau tuliskah naskah
tanpa bersandar pilihan?
keputusan hati
untuk apa
untuk siapa
agar bagaimana
kaupilih tema
dan, layar kaubentang ke mana

semua menuntut paripurna
idealisme di ruang hampa
sebagian meminta kau jadi mereka
sebagian menarikmu ke sana
kau tahu pula
tak ada kepentingan yang rela
kau bermukim
di habitat bening semesta
tak ada kekuatan yang legawa
kau beri ruang yang sama

sekuat apa berdiri
di tonggak nurani
padahal kau bukan pertapa
padahal bukan pula si zuhud
yang memunggungi dunia
mengarungi keyakinan
menempuh idealisme
dengan hati liat
dengan jaminan hidup kuat
agar orang tak gampang melaknat

bijakkah meminta
wartawan istikamah mematung memperjuangkan kebenaran
jadi gantungan semua orang
dengan kondisi meriang
dengan masa depan mengambang.

SAJAK WARTAWAN (2)
kau punya semesta
yang tak mereka miliki
biarkan merasa
jadi panglima opini
dengan status-status seram
bombardir cuitan yang berlagak
instastory mau menang sendiri
lalu dunia mereka kuasai
salah-benar urusan nanti

jangan galau kau pilih profesi ini
yang seharusnya punya jalan sendiri
yang tak seharusnya kau lemahkan
dengan ketidakyakinan
hanya karena kisah rumah-rumah
yang tumbang satu per satu
dari sandyakala menjadi nyata
menyodorkan rembang masa
era yang bergerak
siapa mampu membendung arusnya?

masih luaskah semesta kita
menyulam konfidensi dan keteguhan
menjadi pilar kebangsaan
kita dipaksa bersikutat
dengan hari-hari muram
orang-orang memandang
tanpa kepercayaan

ada yang menanggalkan harga diri
memilih berkubu-kubu
atas nama afiliasi
membangun logika dan artikulasi
menyingkiri kebenaran asasi.

SAJAK WARTAWAN (3)
hari ini kita mahkotai profesi
yang telah memberi harga diri
dan, mereka yang membawa hati bening
hadir memberkati
dengan respeksi

puja-puji dan tepuk tangan
terkadang malah melilit perih
di sudut-sudut galau
di relung-relung risau

kita menjaganya
semesta hati semesta rasa
selapang jiwa menuang kebenaran
kita mengawalnya
sehiruk pikuk itu berebut ruang
akankah kita membiarkannya?

masih ada tarikan napas peduli
dan kita merasa punya sisa ruang
menindih suara-suara
menepikan sayat resah
untuk menegaskan
dengan suara bimbang
ini bukan profesi sembarangan

tepuk tangan dan puja-puji
hari ini
meraung pedih
bagai ayat-ayat yang menyayat
di sabana sunyi…

Semarang, 9 Februari 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here