Bagikan
Rombongan sedang berwisata di Musium Sangiran. foto: dok

SOLO – Solo Raya Accessible Tourism (SRAT), komunitas penggiat wisata untuk semua, menilai akses untuk penyandang difabel di Museum Radya Pustaka dan Museum Sangiran belum memenuhi syarat standar bagi disabilitas.

“Meskipun sudah ada, namun masih sangat minim dan belum memenuhi syarat standar yang sesuai bagi disabilitas,” kata Ketua SRAT saat memberi keterangan pers, Sabtu (19/1/2019), seusai kegiatan Jalan Jalan Asyik, Bahagia untuk Semua.

Kegiatan jalan-jalan yang dilaksankan SRAT itu juga diikuti sejumlah komunitas difabel maupun komunitas pecinta wisata, seperti Gerkatin dan Surakarta Walking Tourism. Destinasi wisata yang dituju adalah Myseum Radya Pustaka, Solo, dan dilanjutkan ke Museum Sangiran Sragen.

Solo Raya Accessible Tourism (SRAT) merupakan organisasi sosial yang didirikan untuk mendorong dunia pariwisata yang aksesibel dan ramah bagi semua. Organisasi ini resmi berdiri September 2018 silam dengan inisiator Dwi Ariyani (aktivis penyandang difabel), Bambang Prajuritno seorang pelaku dan praktisi pariwisata, Anni Aryani dosen pascasarjana dan doktoral FEB UNS, Mulyanto Utomo jurnalis, Bambang Ary Wibowo praktisi hukum dan pariwisata, Djunanto Hutomo, dan Tuty Daryanto keduanya pelaku industri pariwisata serta sejumlah orang lain.

Nenurut Dwi Ariyani, acara Jalan Jalan Asyik Semua Bahagia ini merupakan salah satu agenda program SRAT. Kegiatan ini bertujuan membangun kerja sama antar berbagai komunitas yang berbeda untuk mewujudkan adanya pariwisata yang dapat dinikmati semua orang dan ramah terhadap disabilitas, anak maupun orang tua, serta bagi mereka yang memiliki kebutuhan khusus lainnya.

Museum Radya Pustaka dan Museum Sangiran yang menjadi tujuan wisata kali ini dinilai masih sangat kurang memberi akses bagi difabel. “Radya Pustaka sudah ada ram, meskipun portabel. Itu pun terlalu curam, sehingga kami memberi rekomendasi untuk dibuat yang permanen yang sesuai standar dengan cara setengah melingkar lewat samping gedung,” kata Dwi Aryani.

Sejumlah koleksi museum yang menurut SRAT sangat langka dan istimewa itu, juga perlu diberi keterangan yang detil dan jelas. “Termasuk papan petunjuk untuk kawan-kawan difabel dan audio untuk difabel netra juga perlu diadakan,” katanya.

Sementara hasil kunjungan ke Museum Sangiran menurut Dwi juga masih ditemukan banyak kekurangan terkait dengan aksesabel untuk difabel daksa, netra maupun difabel tuli.
“Di Sangiran fasilitas sudah lumayan. Tapi ramp nya masih terlalu curam dan sangat terbatas, belum merata karena hanya bisa sampai di Ruang Displai 1, itupun masih ada tangga (step) meskipun hanya satu,” katanya.

Sementara di Ruang Displai 2 dan 3, kata Dewi, benar-benar tidak ada ramp, sehingga pengguna kursi roda tidak bisa masuk tanpa mengangkat kursi roda dengan bantuan orang lain. “Ruangannya berunda-undak,” tambahnya.

Mengingat pentingnya dunia patiwisata bagi semua pihak, SRAT menurut Dwip mempunyai misi mewujudkan pariwisata yang bebas hambatan bagi semua.

“Misi organisasi kami ini antara lain membuat dunia pariwisata di Solo dan sekitarnya/Solo Raya menjadi ramah dan akses bagi semua orang (baik untuk disabilitas, anak mapun orang tua) meliputi produk, pelayanan, dan tempat wisatanya,” tambah Dwi Aryani.

Dia juga berharap SRAT mampu menggerakkan berbagai komunitas di Solo dan sekitarnya untuk bekerja sama dalam mewujudkan Solo Raya sebagai tujuan wisata yang ramah bagi semua orang. (suarabaru.id/edi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here