Bagikan
Personel Koramil dan jajaran Polsek, tampil bersama relawan siaga bencana, pamong desa dan warga masyarakat, bergotong-royong membantu perbaikan rumah korban bencana longsor di Kecamatan Puhpelem, Kabupaten Wonogiri.(suarabaru.id/bp)

WONOGIRI – Di musim penghujan sekarang ini, wilayah Kabupaten Wonogiri masuk dalam peta merah rawan bencana puting beliung dan tanah longsor. Dalam kurun waktu dua pekan terakhir ini di awal Tahun 2019, setidak-tidaknya telah terjadi 3 kali bencana puting beliung dan tanah longsor, yang melanda di 7 dari 25 wilayah kecamatan di Kabupaten Wonogiri.

Ketujuh wilayah kecamatan tersebut, terdiri atas Kecamatan Manyaran, Puhplem, Pracimantoro, Bulukerto, Giriwoyo, Baturetno dan Selogiri. Bahkan untuk Kecamatan Puhpelem, yang berlokasi di ujung timur laut Kabupaten Wonogiri, dalam dua pekan ini telah dua kali dilanda bencana yang dipicu adanya hujan deras disertai angin kencang.
Meski tidak sampai menimbulkan korban jiwa, tapi dampak dari bencana alam yang dimunculkan oleh hujan deras dan angin kencang tersebut, telah menumbangkan ratusan pohon dan merusak puluhan rumah penduduk, serta menimbulkan kerugian materi dalam jumlah yang besar.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonogiri, Bambang Haryanto, Rabu (16/1), menyerukan di musim penghujan ini, agar warga masyarakat meningkatkan kewaspadaannya. ”Waspada dan siaga untuk wilayah Wonogiri timur dan selatan,” tegasnya. Sebab, mengacu prakiraan cuaca yang dikeluarkan oleh BMKG (Badan Metereologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Stasiun Metereologi kelas II Ahmad Yani Semarang, Kabupaten Wonogiri masuk dalam peta daerah yang berpotensi menerima hujan dengan intensitas sedang sampai lebat, disertai angin dari arah selatan dan barat berkekuatan 10 sampai 25 KM per jam, dengan kelembaban udara 65 sampai 90 dan suhu udara 26-32 derajat.

Dampak dari adanya hujan lebat dan angin kencang tersebut, itu berpotensi memunculkan bencana puting beliung, banjir dan tanah longsor. Yang tiga jenis bencana ini, sepertinya selalu terjadi di sejumlah wilayah di Kabupaten Wonogiri, utamanya pada saat awal musim penghujan sampai dengan nanti tiba saatnya tiba musim penghujan puncak.

Sekretaris BPBD Kabupaten Wonogiri, Sundoro, menambahkan, selama Tahun 2018 di Kabupaten Wonogiri telah terjadi 40 kejadian bencana tanah longsor, 7 kali banjir, 48 kali puting beliung atau angin topan, dan masing-masing tiga kali terjadi bencana tanah ambles dan tanah beregerak. ”Kalau untuk musibah kebakaran, selama Tahun 2018 tercatat ada sebanyak 62 kejadian, dengan total kerugian materi sebanyak Rp 1,2 miliar lebih,” jelas Sundoro.

Untuk bencana tanah longsor Tahun 2018 sebanyak 40 kejadian, itu telah memberikan dampak pada 111 keluarga korban dengan nilai kerugian materi sebanyak Rp 643,7 juta. Kemudian 6 kali bencana banjir, memberikan dampak sebanyak 26 keluarga korban, dengan nilai kerugian materi sebanyak Rp 60 juta. Terhadap 48 kejadian angin topan (puting beliung), memberikan dampak pada 119 keluarga korban, dengan kerugian materi sebesar Rp 369,1 juta. Selanjutnya, pada masing-masing 3 kejadian bencana tanah retak dan tanah bergerak, itu menimbulkan dampak pada masing-masing 7 keluarga korban dengan kerugian materi Rp 380 juta. Berikut pada 62 musibah kebakaran, telah menimbulkan kerugian materi sebesar Rp 1.271.000.000,-(suarabaru.id/bp)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here