Bagikan
Faradilla Rizka Saputri, Mahasiswi S1 Akuntansi Universitas Islam Sultan Agung Semarang

Melemahnya Rupiah Di Tengah Penguatan Mata Uang Negara Asia

Oleh : Faradilla Rizka Saputri

Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.875 per dolar Amerika Serikat (AS). Posisi ini melemah 20 poin atau 0,13 persen dari posisi penutupan kemarin di Rp14.855 per dolar AS. Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.896 per dolar AS atau menguat dari posisi kemarin Rp14.908 per dolar AS.

Bersama rupiah, beberapa mata uang di kawasan Asia turut melemah di hadapan dolar AS, seperti dolar Hong Kong dan ringgit Malaysia yang masing-masing minus 0,02 persen dan 0,01 persen. Namun, mayoritas mata uang lainnya justru menguat dari dolar AS. Yen Jepang menguat 0,02 persen, peso Filipina 0,06 persen, renminbi China 0,13 persen, dolar Singapura 0,15 persen, won Korea Selatan 0,22 persen, rupee India 0,26 persen, dan baht Thailand 0,41 persen.

Begitu juga dengan mata uang negara maju lainnya yang berhasil berada di zona hijau. Dolar Kanada 0,17 persen, Euro Eropa 0,25 persen, Poundsterling Inggris 0,22 persen, Dollar Australia 0,43 persen, dan Rubel Rusia 0,5 persen. Hanya mata uang Franc Swiss yang melemah 0,15 persen.

Analis sekaligus Direktur Utama PT Garuda Berjangka yaitu Ibrahim, memberikan penjelasan pelemahan rupiah ini sebenarnya tak begitu buruk, meski beberapa mata uang Asia justru bisa menguat. Lantarannya, ia melihat pelemahan rupiah masih terbilang tipis setelah sebelumnya sempat menembus kisaran Rp14.400/US$.

Selain itu, rupiah seharusnya melemah lebih dalam karena ada potensi penguatan dolar AS dari akan dirilisnya data inflasi Negeri Paman Sam pada hari ini. Namun, nyatanya, dolar AS tak begitu kuat hari ini. “Padahal ekspektasi pasar inflasi mendekati dua persen, artinya akan membuat munculnya indikasi The Fed kembali mengerek bunga, tapi ini justru indeks dolar AS tak berhasil menguat,” katanya kepada CNNIndonesia.com.

Lebih lanjut, pelemahan rupiah yang tak begitu dalam, menurutnya cukup terbantu dari asumsi makro tahun depan yang disepakati pemerintah dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). “Ini cukup memberi angin segar, terutama investor asing bahwa perekonomian Indonesia tetap diupayakan meningka, meski secara eksternal tengah ada gonjangan,” katanya .

Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada memproyeksi rupiah tertahan di zona merah pada hari ini karena pelaku pasar diperkirakan kembali meningkatkan permintaan dolar AS. Akibatnya, dolar AS diramal menguat. “Ditambah lagi masih ada sejumlah sentimen yang dianggap kurang baik, sehingga bisa membuat rupiah kembali melemah,” kata Reza.

Menurutnya, pasar melihat sentimen kurang baik itu dari keputusan Bank Indonesia (BI) yang baru saja mengerek tingkat bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,5 persen. Pasar semula menganggap keputusan BI ini positif, namun belakangan hal ini dilihat justru dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, sehingga berbalik menjadi sentimen negatif bagi pasar. “Dari luar, masih ada kekhawatiran akan penyebaran resesi ekonomi Turki yang membuat permintaan akan dolar AS meningkat,” tambahnya.

Meski pelemahan itu bersifat terbatas dan belum berpengaruh penuh pada pergerakan rupiah, Dini menilai kondisi ini memberi peluang bagi rupiah untuk stabil dalam beberapa hari ke depan.(suarabaru.id/ Faradilla Rizka Saputri, Mahasiswi S1 Akuntansi Universitas Islam Sultan Agung Semarang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here