Bagikan
Museum Narkoba di Purbalingga, Jawa Tengah

Mengenal Museum Narkoba di Purbalingga

Oleh: Kunarto Marzuki

Ya, kehadiran Museum narkoba tersebut secara tidak langsung sudah memberikan pendidikan dan penyebaran informasi yang efektif, khususnya kepada generasi muda di Indonesia. Sambil berwisata mereka memperoleh informasi yang bermanfaat dan belum tentu didapatkan di bangku sekolah selama proses belajar mengajar.

PAGI itu suasana masih dingin. Mendung menggelayut tipis sebagai penegas pertengahan Desember. Angin berhembus lembut. Dua bus dengan kode nomor polisi wilayahJawa Barat berjajar di halaman parkir.

Di sebelahnya, mobil minibus dan beberapa kendaraan pribadi juga terparkir rapi. Sementara beberapa pedagang asongan sedang menata dagangannya. Satudua diantara mereka hilir mudik menawarkan dagangannya. Ada makanan khas Purbalingga, souvenir, merchandise sertamainan anak-anak.

Ruang Dalam Museum Narkoba

Seorang pria penjual karcis Taman Wisata Sanggaluri Park menyapa kami dengan sopan. Dia berdiri di bawah pintu gerbang nan megah dengan simbol patung Semar, tokoh pewayangan yang sangat terkenal.

Kami menanyakan tentang Museum Narkoba yang terletak di dalam tempat rekreasi tersebut. Kami juga menanyakan apakah ada perwakilan manajemen yang bisa kami temui untuk memberikan informasi.

“Setelah masuk lalu belok kanan. Persis duaratus meter nanti Museum Narkobanya terlihat,” ujarpenjagapintugerbangtersebut.

Namun kami tidak langsung ke Museum Narkoba. Kami mendatangi pihak manajemen terlebih dahul untuk berdiskusi mengenai Museum Narkoba yang mereka kelola.

Api Unggun

Ternyata, hanya butuh berjalan 200 meter kami sudah menemukan pihak manajemen yang sedang berkumpul di sebuah kantin pada bagian tengah taman rekreasi tersebut.

Tampaknya mereka habis morning meeting. Mereka menyambut kami dengan hangat. Bebera pakursi disediakan. Beberapa botol minuman kemasan disuguhkan.

“KAMI sedang mendiskusikan konsep marketing tahun 2019. Sasaran kami adalah pelajar. Sekarang kita sudah jual paket out bond untuk pelajar dengan salah satu acara favorit api unggun.

Nah kami mau tambahi dengan penyampaian informasi mengenai narkoba sekitar 30 menit, dan kami minta BNN yang menyampaikan,” ujar Budi Anggoro, Manager Sanggaruli Park, baru-baru ini.

Pernyataan di atas mengawali obrolan pagi kami dengan pihak manajemen Sanggaruli Park. Selamaini, Sanggaruli Park banyak didatangi oleh para pelajar, khususnya dari Kabupaten Purbalingga.

Namun tidak sedikit pula para pelajar dating dari Jawa Barat dan Jakarta. Mereka menawarkan wisata edukasi. Sebagai pusat edukasi pelajar, berbagai museum mini berdiri di tempatini, antara lain Museum Wayang dan Artefak, Museum Uangdan Perangko, Taman Reptildan Museum Serangga, Taman Burungserta yang terbaru adalah Museum Narkoba.

Setiap tahunnya tidak kurang dari 230.000 pelajar mengunjungi tempat ini. Setiap bulannya sedikitnya 20.000 pelajar dari berbagai kota pergi ke Sanggaruli Park. Mereka dating dengan rombongan sekolah atau sendiri-sendiri.

Tempat ini menjadi rujukan para pelajar karena wahana  edukasinya tergolong lengkap. Masa-masa liburan sekolah seperti saat inia dalah masa banyak-banyaknya pengunjung mendatangi tempat ini.

“Ada juga paket field trip study dan out bond yang bias dipilih oleh para pelajar,” ujar Budi Anggoro menabahkan.

Nama Sanggaruli Park sendiri bukanlah tanpa arti. Sebuah harapan luhur tersemat di dalamnya. Sanggar uli berarti tempat mencari ilmu. Nama itu adalah sebuah akronim dari sanggar berarti tempat atau rumah dan ruli adalah potongan kalimat dalam bahasa Jawaluruilmu yang  berarti mencari ilmu.

“Itulah makanya segmen kami focus pada pelajar,” ujar Budi.

Budi menceritakan, membangun kepercayaan masyarakat agar mau berkunjung ketempat ini tidaklah persoalan yang mudah.Awalnya dia menyebar tim marketing secara dor to dor mengunjungi berbagai sekolahan untuk menawarkan paket wisata edukasi ini.

Bukan hanyaitu, berbagai brosur dan pamphlet juga disebar bahkan sampai ke Jakarta dan Bandung. Berdiri pada 2007, pada akhirnya areal wisata edukasi seluas 3,5 hektar itu kini mulai ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai kota di Jawa.

“Jadi kami juga punya guide tour yang akan mendampingi wisatawan dan menjelaskan berbagai wahana edukasi di sini,” tambah Budi.

Taman wisata yang terletak di Kecamatan Bojongsari ini tidak sekedar berorientasi pada bisnis murni. Ada misisosial yang dilakukan di sini. Tiket masuk yang tergolong murah membuat semua  kalangan bias membelinya.

Untuk hari-hari biasa (week day) tiket masuknya Rp. 15 ribu per orang, sementara kalau sedang libur (week end) tiket masuknya menjadiRp. 20 ribu per orang. Memberi potongan harga tiket bagi pelajar asli Purbalingga merupakan misi social Sanggaruli.

“Tapi khusus untuk pelajar dari wilayah Purbalingga kami beri potongan harga (discount) hingga 50 persen,” tambah Budi.

WAHANA Edukasi Narkoba merupakan salah satu wahana edukasi yang bias dikunjungi di Taman Sanggaruli Park. Diresmikan oleh Kepala BNN Budi Waseso pada 10 Oktober 2016, wahana yang berisi pengetahuan dan informasi seputar narkoba ini sekarang ramai dikunjungi.

Berada di dalam bangunan seluas 9 x 12 meter persegi, pengunjung bias memperoleh berbagai informasi mengenai seluk beluk narkoba. Mulai dari sejarah narkoba hingga ornamen, diorama dan alat peraga dipajang lengkap di sana.

“Kita buka mulai jam 8 pagi sampai jam 5 sore,” ujar Sujatmiko, karyawan serta guide tour yang menemani kami mengunjungi museum narkoba ini.

Seperti apa wahana tersebut? Berikut kira-kira gambaran di dalamnya. Memasuki wahana tersebut kita disuguhi dengan berbagai informasi tentang sejarah narkoba di dunia serta di Indonesia.

Saat penulis melihat miniatur ruang tahanan di museum narkoba

Dalam Penjara

Ada artikel-artikel serta gambar penggunaan narkoba tempo dulu yang dicetak dalam ukuran besar sehingga memudahkan pengunjung memahami narkoba yang beredar di Indonesia. Misalnya saja sejarah penggunaan Candu di Jawa yang mulai beredar sejak jaman sebelum kemerdekaan Negara ini.

Bergeser agak kedalam pengunjung bias melihat  replica narkoba yang benyak beredar di Indonesia. Tentu ini bukan narkoba sungguhan melainkan alat peraga yang dibuat khusus menyerupai narkoba sesungguhnya.

Ada methamphetamine (sabu), amphetamine (ekstasi), ganja (marijuana), jenis-jenis psikotropika, tembakau gorilla (syntetic cannabinoid), kokain, heroin, sertaobat-obatan terlarang lainnya.

Ada pula replica tanaman ganja yang dipajang di sana. Total ada 6 replika dengan luas masing-masing 40 x 60 meter serta satu replika pohon ganja berdimensi 80 x 150 meter.

“Semua kami simpan dalam kaca tembus pandang agar terlindung dari kerusakan. Di dalamnya ada pula peralatan-peralatan pakai seperti bong (alathisap), jarum suntik untuk pemakai heroin dan peralatan lain,” tutur Sujatmiko.

Lebih masuk kebagian dalam kita disuguhi pemandangan yang “agak menakutkan.” Ada diorama sel penjara berisi beberapa narapidana di dalamnya. Ruangan seluas 1 x 2 meter itu didesain layaknya penjara yang sesungguhnya. Di dalamnya ada empat patung orang yang sedang ditahan karena kasus narkoba.

Ada jeruji-jeruji kekar yang membuat mereka terkurung di dalam dan tidak bisakeluar. Itu adalah gambaran suasana di dalam penjara karena kasus narkoba.

“Dulu semua pengunjung diper bolehkan masuk ke dalam dan berfoto di sana. Tapi lama-lama patung-patung itu rusak karena tangan jahil pengunjung. Jadi sekarang hanya diperbolehkan foto dari luar jerujinya saja,” Sujat miko menerangkan.

Pada bagian lain, terpampang foto-foto dan nama-nama artis dunia yang mati karena mengonsumsi narkoba. Nama-nama beken tersebut antara lain adalah Kurt Cobain, Jim Morisson, Whitney Housten dan sederet artis kenamaanlainnya. Semua informasi tersebut agar member pengertian kepada para pelajar tentang dampak dan bahaya narkoba yang akan dialami oleh para pemakainya.

Ada juga foto-foto para sindikat narkoba di Indonesia yang kasusnya sempat membuat heboh. Mereka adalah pemain-pemain narkoba yang berjejaring secara internasional dan terus bekerja meskipun dihukum dalam penjara.

Mereka adalah Freddy Budiman (sudah dihukum mati di Pulau Nusa kambangan), Faisal (pria Aceh terkaya karena mencuci uang dari bisnis narkoba), Amir Acoserta Meirika Franola alias Ola.

Ya, kehadiran Museum Narkoba tersebut secarati tidak langsung sudah memberikan pendidikan dan penyebaran informasi yang efektif, khususnya kepada generasi muda di Indonesia. Sambil berwisata mereka memperoleh informasi yang bermanfaat dan belum tentu didapatkan di bangku sekolah selama proses belajar mengajar.

“Kontribusi BNN adalah menyumbangkan beberapa alat peragadan memberikan informasi tambahan berupabrosur, leaflet, pamphlet danbahan-bahan lain yang dibutuhkan,” ujar Kasi Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat BNN Kabupaten Purbalingga Tarsito.

Dukungan dari Pemerintah Kabupaten Purbalingga agar museum tersebut terus beroperasi sangatlah berarti. Itu sebabnya, pihak manajemen sudah beberapa kali memperoleh penghargaan dari BNN baik di tingkat pusat maupun propinsi.

Begitu juga dukungan dari masyarakat akan memberikan dorongan dan semangat bagi manajemen agar museum tersebut dapat terus beroperasi dan semakin baik pelayanannya bagi masyarakat. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here