Bagikan
TAJAK : Rig dan perangkat pendukung tajak pemboran eksplorasi sumur NGU-IX di Desa Nglobo, Kecamatan Jiken, Blora, Kamis (27/4/2017). Wahono

BLORA – Lapangan Migas Alas Dara dan Lapangan Kemuning (ADK) sepi aktivitas. Meski demikian sampai Selasa (4/12), lapangan migas di Blora itu masih membawa misi Pertamina EP Asset 4 penyokong ketahanan energi nasional.

ADK Field (Lapangan ADK), kini dibawah bendera PT Pertamina Eksplorasi Produksi (EP) Cepu Alas Dara Kemuning (PEPC ADK). Terakhir, melakukan kegiatan tajak pada  24 April 2017, setelah itu sepi aktivitas.

PEPC ADK, didirikan pada 15 Agustus 2013 untuk mengelola ADK Field, yakni lapangan migas dengan wilayah kerja (WK) tergolong kecil, 12.57 Km2 (Alas Dara) dan 12.39 Km2 (Kemuning).

ADK sempat mencuat di Media Ghatering 2018 di Denpasar, Bali, baru-baru ini, yakni forum yang dihelat Pertamina Ekplorasi Produksi (PEP) diikuti perwakilan wartawan dari lima Asset PEP di Indonesia.

Di forum itu, wartawan meminta penjelasan Presiden Ditektur PEP, Nanang Abdul Manaf, untuk membeber masa depan ADK Field, karena saat ini terkesan sepi aktivitas, dan prospeknya yang belum nyata.

Nanang membenarkan, WK PEPC ADK memang kecil, berada di Kabupaten Blora gandeng dengan Cepu Field. Dari lapangan tersebut, sedang dilakukan pencarian cadangan minyak dan gas bumi (migas).

Bisa Digabung

Dari ADK Field, diharapkan ditemukan cadangan migas bernilai ekonomis tinggi, sehingga bisa mendukung katahanan energi nasional. Tapi kalau prospek kedepan kurang bagus, bisa saja ditutup digabung Cepu Field.

“Iya kita lihat dulu, kalau propesknya gak bagus kedepan bisa saja PEPC ADK ditutup digabung Cepu Field,” tandas Presdir PEP, Nanang Abdul Manaf.

Perlu diketahui, Lapangan ADK semula dikelola oleh Pertamina UEP III, terletak di dalam Blok Cepu, dan pada 1990 dikelola TAC Humpuss Patragas (HPG).

WK PEPC ADK ada di tiga kecamatan di Blora, Kecamatan Jiken (lima desa), Kecamatan Sambong (tiga desa), dan Kecamatan Jepon (dua desa).

Pada 2005, Mobil Cepu Limited (MCL) sekarang ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) melepas ADK Field, karena (saat itu) fokus pengembangan Lapangan Banyu Urip, Jambaran Tiung Biru dan Kedung Keris.

Selanjutnya pengelolaan Lapangan ADK mulai 2012 disepakati menggunakan fasilitas yang telah ada untuk mengurangi biaya produksi, PEPC mengawasi pengelolaan ADK berdasar tugas kerja dari PT Pertamina (Persero).

Terakhir pada April 2017, PEPC ADK selaku operator ADK Field, melaksanakan tajak di sumur NGU-1X di Desa Nglobo, menembus perut bumi 1.889 meter yang hasilnya belum diekspos sampai sekarang.(suarabaru.id/wahono)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here