Bagikan
WADUK TEMPURAN : Inilah kondisi terakhir Waduk Tempuran Blora sisi timur mengalami kekeringan serius. Sudah beberapa pekan PDAM Blora sudah tidak lagi bisa beroperasional. Foto : Wahono

BLORA – Dampak musim kemarau membuat Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Amerta  mengalami krisis air serius. Buntutnya, 2.812 pelanggan dalam Kota Blora, beberapa pekan terakhir tidak lagi terlayani air.

Kenyatan itulah, memaksa manajemen perusahaan milik Pemkab Blora menyerah, dan segera mengeluarkan kebijakan menggratiskan rekening bulanan untuk 2.812 pelanggannya.

“Krisis air baku makin serius, itu kendala terberat PDAM,” kata Direktur Utama PDAM Tirta Amerta Blora, Yan Riya Pramono, Jumat (10/8).

Yan menjelaskan, dalam beberapa pekan terakhir ini, PDAM hanya bisa melayani 1.000 pelanggan dalam kota, dari total 3.812 pelanggan.

Konsekuensi tidak terlayani suplai air untuk 2.812 pelanggan, manajemen mulai September 2018, bakal menghentikan rekening bulanan para pelanggan tersebut.

“September depan rekening 2.812 pelanggan kami gratiskan. Tentu tidak tahu sampai kapan, terggantung kondisi alam,” ungkap Yan Riya Pramono.

Maka dengan tidak lagi bisa menyuplai sebagian besar pelanggan dalam kota Blora, dan stop rekening bulanan, berdampak pada kerugian pemasukan sekitar Rp 200 juta perbulannya.

Diberitakan sebelumnya, air PDAM Blora semakin menipis. Menipisnya stok air baku untuk pelanggan di dalam Kota Blora, dan sekitarnya dampak menyusutnya tiga sumber air.

Pangkas Operasional

Sumber-sumber yang airnya kian menipis, sumber Kali Ngampel menyusut tinggal 25 liter/detik, sumber air Kajar menurun 3,01 liter/detik, bahkan air Waduk Tempuran sudah tidak lagi dioperasionalkan

Untuk menyikapi menipisnya air baku, selain mengurangi jam ditribusi, badan usaha milik Pemerintah Kabupaten (BUMD) mengambil langkah hemat atau efisiensi.

Menurut Yan Riya Pramono, efisien sudah harus ditempuh beberapa hari terakhir dengan memangkas operasional rata-rata enam sampai delapan jam perharinya.

Kondisi semakin memprihatinkan, karena sumber Kajar saat ini debitnya tinggal 3,01 liter/detik, dan sungai Ngampel debitnya terus menurun 25 liter/detik hanya bisa dieksploitasi sekitar enam sampai delapan jam perharinya.

Lebih parah lagi kondisi Waduk Tempuran, setok air baku waduk andalan warga Blora itu mengalami penurunan drastis, sehingga PDAM sudah tidak lagi bisa memanfaatkannya.

Saat ini, lanjutnya, PDAM tertolong dari Unit Kecamatan Cepu  yang air bakunya dari Bengawan Solo, Unit Kradenan, Unit Randublatung, Unit Ngawen serta Unit Kunduran. (suarabaru.id/Hn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here