Bagikan
Foto bersama tim penilai KIPP Jateng usai paparan Pak Waris dan Si Bahenol, (Suarabaru.id/dok)

 

MAGELANG- Inovasi ‘Pak Waris’ singkatan dari Pelayanan Akta Kematian Lewat Whatsapp dan Gratis ciptaan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Magelang diterapkan untuk mempermudah masyarakat Kota Magelang dalam mengurus akta kematian.

Penjelasan itu disampaikan Kepala Bidang Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan dan Pemanfaat Data, Ahmat Sholichin, ketika memaparkan inovasi itu di depan tim penilai Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP) Provinsi Jawa Tengah tahun 2018 di Semarang, kemarin.

‘’Pak Waris kami rancang sejak tahun 2016 dan mulai dilaunching tahun 2017. Melalui Pak Waris masyarakat akan dipermudah dalam mengurus akta kematian karena tinggal memfoto dokumen dan mengirim melalui whatsapp. Setelah jadi, mereka tinggal ambil di Kantor Disdukcapil,’’ terangnya.

Menurutnya, sejak adanya Pak Waris, jumlah pengajuan akta kematian terus bertambah. ‘’Masyarakat  dimudahkan karena melalui Pak Waris ini pengurusan jadi lebih singkat, efisien, hemat tenaga, waktu, dan jarak tempuh,’’ ungkapnya.

Pada KIPP Pemkot Magelang mengirimkan 7 proposal. Yang masuk 20 besar selain Pak Waris,  juga ‘Si Bahenol’  singkatan dari Sistem Informasi Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan Secara Online. Inovasi ini ciptaan Kantor Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Magelang.

Kepala Bidang Pendapatan BPKAD, Wikan Kanugroho mengemukakan,  aplikasi Si Bahenol dirancang untuk mempercepat pengurusan pengajuan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB).

‘’Jika biasanya warga mengurus BPHTB selama 14 hari, dengan aplikasi Si Bahenol pengurusan lebih singkat jadi 4 hari. Keunikan aplikasi Si Bahenol dengan aplikasi serupa di daerah lain adalah, partisipasi masyarakat dalam mengawasi pekerjaan kami, ada prinsip transparansi,’’ jelasnya.

Perbedaan lainnya, lanjut Wikan, adalah tidak adanya transaksi tunai selama penerapan aplikasi ini, sehingga mencegah terjadinya kebocoran kas daerah. ‘’Masyarakat langsung membayar BPHTB ke bank yang ditunjuk, sehingga tidak ada lagi celah penerobosan sistem karena pembayaran yang dilakukan secara tunai,’’ tegasnya.

Kasubbag Reformasi Birokrasi dan Pelayanan Publik Bagian Organisasi Setda Kota Magelang, Tatok Sulistyono menjelaskan, KIPP tingkat provinsi ini baru pertama kali  diselenggarakan.  Total sebanyak 172 proposal yang masuk ke panitia KIPP Provinsi Jateng. Panitia kemudian melakukan seleksi lagi hingga tersisa 20 besar, dan Pemkot Magelang termasuk di dalamnya,’’ ujar Tatok kemarin..

Dia menjelaskan, dua inovasi yang lolos seleksi ini adalah Pak Waris dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil serta Si Bahenol dari Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD). ‘’Kami sudah mengikuti tahapan presentasi dan wawancara untuk proses seleksi 20 besar menjadi 10 besar di Gedung D Provinsi Jateng,’’ tuturnya.

Masuknya inovasi dari Kota Magelang, lanjutnya, merupakan h suatu hal yang membanggakan. Mengingat Kota Sejuta Bunga ini baru pertama kali ini mengikuti kompetisi yang diselenggarakan oleh Biro Organisasi Pemerintah Provinsi Jateng tersebut.

‘’Termasuk juga inovasi Siap Uji KIR Online di Dinas Perhubungan yang masuk TOP 99 KIPP tingkat nasional itu juga baru pertama kali. Hal ini cukup membanggakan dan semoga bisa memacu OPD-OPD di Pemkot Magelang untuk terus menciptakan inovasi terbaru,’’ pintanya. (Suarabaru.id/dh)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here