Bagikan
Kasubag Publikasi dan Pemberitaan Humas Pemkot Magelang, Anggit Pamungkas, melihat pekerja sedang mencetak patung taruna, SMNet.Com/dh

 

MAGELANG- Kota Magelang sebuah kota kecil dengan tiga kecamatan, namun memiliki banyak usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Jumlahnya mencapai 5.000 UMKM yang menggeluti usaha makanan kecil, kerajinan, batik, souvenir dan sebagainya.

Untuk mengangkat potensi UMKM sekaligus mempromosikan produknya, Bagian Humas Pemkot Magelang mengajak wartawan media cetak dan media elektronik ‘’blusukan’’ ke tempat produksi mereka.

Kasubag Publikasi dan Pemberitaan Humas setempat, Anggit Pamungkas menerangkan, kali pertama tujuan blusukan adalah melihat dari dekat produksi aksesoris militer yang berlokasi di Perum Tidar Indah, Kelurahan Magersari, Kota Magelang.

Usaha aksesoris militer dimiliki Darwo Wibowo (43) asal Brebes.  Dia menggeluti usaha itu sejak tahun 2006,  memanfaatkan keberadaan Kota Magelang sebagai kota militer.

Di kota ini terdapat berbagai instansi militer. Antara lain Akademi Militer, Secaba, Rindam IV/Diponegoro, Batalyon Armed 11/Kostrad, Batalyon Armed 3 Nagapaksa dan Kodim 0705 Magelang.

Berbagai sovenir militer dibuat dengan bahan baku fiber, kulit, kain, plastik dan lainnya. Yaitu patung militer, patung taruna, gantungan kunci, dompet STNK, wadah telepon seluler, tanda pangkat taruna, stiker, plakat, pigura, baju mini, pedang pora, medali dan piala.

Darwo  pengusaha souvenir militer ‘Gita Tidar Indah’ mengatakan, saat ini kuwalahan memenuhi permintaan pasar baik dari Kota Magelang  maupun dari berbagai kota di Indonesia. ‘’Permintaan barang kerajinan militer tidak pernah habis baik dari Kota Magelang maupun dari kesatuan-kesatuan militer di seluruh Indonesia,’’ ujarnya.

Di kota ini, lanjutnya, yang banyak memesan adalah berbagai toko kerajinan yang menjual souvenir khas militer. ‘’Di luar Jawa, saya memasok pesanan batalyon- batalyon  dari Aceh, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi sampai Papua,’’ katanya.

Hasil produksinya dijual bervariasi. Patung militer dijual dari Rp 25 ribu sampai Rp 175 ribu. Kemudian gantungan kunci Rp 4 ribu/buah, dompet STNK Rp 15 ribu dan tempat telepon seluler Rp 25 ribu/buah. Omzet rata-rata setiap hari Rp 1 Juta dan memiliki tenaga kerja sekitar 15 orang.

Darwo juga pernah mendapat pesanan barang untuk Pasukan Garuda yang bertugas sebagai Pasukan Perdamaian PBB.  Selain itu, juga selalu mendapat pesanan dari  Akmil setiap kali berlangsung acara-acara kemiliteran di tempat itu.

Di Kota Magelang, dia mengaku satu-satunya perajin souvenir militer. Sedang di Kabupaten Magelang terdapat dua perajin. Masih terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin berusaha di bidang souvenir militer. ‘’Saya selalu siap mengajari siapa saja yang ingin menjadi perajin. Makin  banyak yang membuat, kita makin kreatif mengembangkan usaha,’’ ungkapnya.

Kasubag Publikasi dan Pemberitaan Anggit Pamungkas menambahkan, penting berbagai produk UMKM dipormosikan agar makin dikenal masyarakat hingga ke luar daerah. ‘’Harapan ke depan makin banyak permintaan terhadap produknya. Selain itu, memberi inspirasi orang lain untuk menghasilkan produk kreatif,’’ harapnya.

Kasi Monev dan Fasilitas Industri Disperindag, Hety Kusumawati menjelaskan, dari kualitas produk karya Pak Darwo tidak diragukan lagi dan selalu menjadi unggulan. ‘’Saya berharap usaha makin besar sehingga pekerja asal Kota Magelang yang diserap makin banyak,’’ terangnya. (SMNet.Com/dh)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here